Syariat


Syariat Islam adalah ajaran Islam yang membicarakan amal manusia baik sebagai makluk ciptaan Allah maupun hamba Allah.

Terkait dengan susunan tertib Syari’at, Al Quran Surat Al Ahzab ayat 36mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatuperkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain.Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatuperkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya maka umatIslam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna inididukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah QS 5:101 yang menyatakan bahwahal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.

Dengan demikian perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidupberibadahnya kepada Allah itu dapat disederhanakan dalam dua kategori,yaitu apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategoriAsas Syara’ dan perkara yang masuk dalam kategori Furu’ Syara’.

Syari’at bisa disebut syir’ah. Artinya secara bahasa adalah sumber airmengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan“syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datangpada syari’ah.

Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau“istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allahberfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad danumat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yangterang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan)tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlahkamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5):18].

“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agamasebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa(42): 13].

Sedangkan arti syari’at menurut istilah adalah “maa anzalahullahu li‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani rusulihil kiraami liyukhrijannaasa min dayaajiirizh zhalaami ilan nuril bi idznihi wa yahdiyahumilash shiraathil mustaqiimi.” Artinya, hukum-hukum (peraturan) yangditurunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia,agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkanpetunjuk ke jalan yang lurus.

Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi fraseSyari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu), istilah bentukan iniberarti, ” maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaanisayyidinaa muhammadin ‘alaihi afdhalush shalaati was salaami sawaa-unakaana bil qur-ani am bisunnati rasuulillahi min qaulin au fi’lin autaqriirin.” Maksudnya, syari’at Islam adalah hukum-hukumperaturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt. untuk umat manusiamelalui Nabi Muhammad saw. baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah Nabiyang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.

Terkadang syari’ah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian “FiqhIslam”. Jadi, maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertiankhusus. Ithlaaqul ‘aammi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahaldimaksudkan khusus).

Fiqh menurut bahasa adalah tahu atau paham sesuatu. Hal ini sepertiyang bermaktub dalam surat An-Nisa (4) ayat 78, “Maka mengapaorang-orang itu (munafikin) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan(pelajaran dan nasihat yang diberikan).”

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam perkara agama.”

Kata Faqiih adalah sebutan untuk seseorang yang mengetahui hukum-hukumsyara’ yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf, hukum-hukumtersebut diambil dari dalil-dalilnya secara terperinci.

Fiqh Islam menurut istilah adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukumAllah atas perbuatan orang-orang mukallaf, hukum itu wajib atau haramdan sebagainya. Tujuannya supaya dapat dibedakan antara wajib, haram,atau boleh dikerjakan.

Ilmu Fiqh adalah diambil dengan jalan ijtihad. Ibnu Khaldun dalamMuqaddimah-nya menulis, Fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukumAllah, di dalam perbuatan-perbuatan orang mukallaf (yang dibebanihukum) seperti wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Hukum-hukum itudiambil dari Al-Qur’an dan Sunnah serta dari sumber-sumber dalil lainyang ditetapkan Allah swt. Apabila hukum-hukum tersebut dikeluarkandari dali-dalil tersebut, maka disebut Fiqh.

Para ulama salaf (terdahulu) dalam mengeluarkan hukum-hukum daridalil-dalil di atas hasilnya berbeda satu sama lain. Perbedaan iniadalah suatu keharusan. Sebab, pada umumnya dalil-dalil adalah darinash (teks dasar) berbahasa Arab yang lafazh-lafazhnya (kata-katanya)menunjukkan kepada arti yang diperselisihkan di antara mereka.

Fiqh Islam terbagi menjadi enam bagian:

  1. Bagian Ibadah, yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yangdipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. dan untuk mengagungkankebesaran-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
  2. Bagian Ahwal Syakhshiyah (al-ahwaalu asy-syakhsyiyyatu), yaitu suatubagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan denganpembentukan dan pengaturan keluarga dan segala akibat-akibatnya,seperti perkawinan, mahar, nafkah, perceraian (talak-rujuk), iddah,hadhanah (pemeliharaan anak), radha’ah (menyusui), warisan, danlain-lain. Oleh kebanyakan para mujtahidin, bagian kedua ini dimasukkanke dalam bagian mu’amalah.
  3. Bagian Mu’amalah (hukum perdata), yaitu suatu bagian yangmembicarakan hukum-hukum yang mengatur harta benda hak milik, akad(kontrak atau perjanjian), kerjasama sesama orang seperti jual-beli,sewa menyewa (ijarah), gadai (rahan), perkonsian (syirkah), danlain-lain yang mengatur urusan harga benda seseorang, kelompok, dansegala sangkut-pautnya seperti hak dan kekuasaan.
  4. Bagian Hudud dan Ta’zir (hukum pidana), yaitu bagian yangmembicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan kejahatan,pelanggaran, dan akibat-akibat hukumnya.
  5. Bagian Murafa’at (hukum acara), yaitu bagian yang membicarakanhukum-hukum yang mengatur cara mengajukan perkara, perselisihan,penuntutan, dan cara-cara penetapkan suatu tuntutan yang dapatditerima, dan cara-cara yang dapat melindungi hak-hak seseorang.
  6. Bagian Sirra wa Maghazi (hukum perang), yaitu bagian yangmembicarakan hukum-hukum yang mengatur peperangan antar bangsa,mengatur perdamaian, piagam perjanjian, dokumen-dokumen danhubungan-hubungan umat Islam dengan umat bukan Islam.

Jadi, Fiqh Islam adalah konsepsi-konsepsi yang diperlukan oleh umatIslam untuk mengatur kepentingan hidup mereka dalam segala segi,memberikan dasar-dasar terhadap tata administrasi, perdagangan,politik, dan peradaban. Artinya, Islam memang bukan hanya akidahkeagamaan semata-mata, tapi akidah dan syariat, agama dan negara, yangberlaku sepanjang masa dan sembarang tempat.

Dalam Al-Qur’an ada 140 ayat yang secara khusus memuat hukum-hukumtentang ibadah, 70 ayat tentang ahwal syakhshiyah, 70 ayat tentangmuamalah, 30 ayat tentang uqubah (hukuman), dan 20 ayat tentangmurafa’at. Juga ada ayat-ayat yang membahas hubungan politik antaranegara Islam dengan yang bukan Islam. Selain Al-Qur’an, keenam temahukum tersebut di atas juga diterangkan lewat hadits-hadits Nabi.Sebagian hadits menguatkan peraturan-peraturan yang ada dalam ayat-ayatAl-Qur’an, sebagian ada yang memerinci karena Al-Qur’an hanyamenyebutkan secara global, dan sebagian lagi menyebutkan suatu hukumyang tidak disebutkan dala mAl-Qur’an. Maka, fungsi hadits adalahsebagai keterangan dan penjelasan terhadap nash-nash (teks) Al-Qur’anyang dapat memenuhi kebutuhan (kepastian hukun) kaum muslimin

Hukum Syara’

Hukum syara’ adalah “maa tsabata bi khithaabillahil muwajjahi ilaal‘ibaadi ‘alaa sabiilith thalabi awit takhyiiri awil wadh’i”. Maksudnya,sesuatu yang telah ditetapkan oleh titah Allah yang ditujukan kepadamanusia, yang penetapannya dengan cara tuntutan (thalab), bukan pilihan(takhyir), atau wadha’.

Contoh hukum syara’, perintah langsung Allah swt., “Tegakkahlah shalatdan berikanlah zakat!” [QS. Al-Muzzamil (73): 20]. Ayat ini menetapkansuatu tuntutan berbuat, dengan cara tuntutan keharusan yang menunjukkanhukum wajib melakukan shalat dan zakat.

Firman Allah swt., “Dan janganlah kamu mendekati zina!” [QS. Al-Isra'(17): 32]. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan meninggalkan, dengan carakeharusan yang menunjukkan hukum haram berbuat zina.

Firman Allah swt., “Dan apabila kamu telah bertahallul (bercukur), makaberburulah.” [QS. Al-Maidah (5): 2]. Ayat ini menunjukkan suatu hukumsyara’ boleh berburu sesudah tahallul (lepas dari ihram dalam haji).Orang mukallaf boleh memilih antara berbuat berburu atau tidak.

Yang dimaksud dengan wadha’ adalah sesuatu yang diletakkan menjadisebab atau menjadi syarat, atau menjadi pencegah terhadap yang lain.Misalnya, perintah Allah swt. “Pencuri lelaki dan wanita, potonglahtangan keduanya.” [QS. Al-Maidah (5): 38]. Ayat ini menunjukkan bahwapencurian adalah dijadikan sebab terhadap hukum potong tangan.

Bersabda Rasulullah saw., “Allah swt. tidak menerima shalat yang tidakdengan bersuci.” Hadits ini menunjukkan bahwa bersuci adalah dijadikansyarat untuk shalat.

Contoh yang lain, sabda Rasulullah saw., “Pembunuh tidak bisa mewarisisesuatu.” Hadits ini menunjukkan bahwa pembunuhan adalah pencegahseorang pembunuh mewarisi harta benda si terbunuh.

Dari keterangan-keterangan di atas, kita paham bahwa hukum syara’ dibagi menjadi dua, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.

Hukum taklifi adalah sesuatu yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat,atau tuntutan untuk meninggalkan, atau boleh pilih antara berbuat danmeninggalkan.

Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat: “Ambilah sedekahdari sebagian harta mereka!” [QS. At-Taubah (9): 103], “Mengerjakanhaji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yangsanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” [QS. Al-Imran (3): 97].

Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan: “Janganlahdi antara kamu mengolok-olok kaum yang lain.” [QS. Al-Hujurat (49):11], “Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, dan daging babi.” [QS.Al-Maidah (5): 3].

Contoh hukum yang menunjukkan boleh pilih (mudah): “Apabila telahditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi.” [QS.Al-Jumu’ah (62): 10], “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, makatidaklah mengapa kamu mengqashar shalat.” [QS. An-Nisa’ (4): 101].

Hukum wadh’i adalah yang menunjukkan bahwa sesutu telah dijadikan sebab, syarat, dan mani’ (pencegah) untuk suatu perkara.

Contoh sebab: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendakmengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampaisiku-siku.” [QS. Al-Maidah (5): 6]. Kehendak melakukan shalat adalahyang menjadikan sebab diwajibkannya wudhu.

Contoh syarat: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadapAllah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.”[QS. Ali Imran (3): 97]. Kemampuan adalah menjadi syarat diwajibkannyahaji.

Contoh mani’ (pencegah): Rasulullah saw. bersabda, “Pena diangkat(tidak ditulis dosa) dari tiga orang, yaitu dari orang tidur sampai iabangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan dari orang gila sampai iasembuh (berakal).” Hadits ini menunjukkan bahwa gila adalah pencegahterhadap pembebanan suatu hukum dan menjadi pencegah terhadap perbuatanyang sah.

Hukum taklifi terbagi menjadi dua, yaitu azimah dan rukhshah. Azimahadalah suatu hukum asal yang tidak pernah berubah karena suatu sebabdan uzur. Seperti shalatnya orang yang ada di rumah, bukan musafir.Sedangkan rukhshah adalah suatu hukum asal yang menjadi berubah karenasuatu halangan (uzur). Seperti shalatnya orang musafir.

 

Azimah meliputi berbagai macam hukum, yaitu:

  1. Wajib. Suatu perbuatan yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.)dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukum perbuatan ini harus dikerjakan.Bagi yang mengerjakan mendapat pahala dan bagi yang meninggalkanmendapat siksa. Contohnya, puasa Ramadhan adalah wajib. Sebab, nashyang dipakai untuk menuntut perbuatan ini adalah menunjukkan keharusan.“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” [QS.Al-Baqarah (2): 183]
  2. Haram. Haram adalah sesutu yang telah dituntut oleh syara’ (Allahswt.) untuk ditinggalkan dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukumnyabila dikerjakan adalah batal dan yang mengerjakannya mendapat siksa.Contohnya, tuntutan meninggalkan berzina, tuntutan meninggalkan makanbangkai, darah, dan daging babi.
  3. Mandub (sunnah). Mandub adalah mengutamakan untuk dikerjakandaripada ditinggalkan, tanpa ada keharusan. Yang mengerjakannyamendapat pahala, yang meninggalkannya tidak mendapat siksa, sekalipunada celaan. Mandub biasa disebut sunnah, baik sunnah muakkadah (yangdikuatkan) atau ghairu (tidak) muakkadah (mustahab).
  4. Makruh. Makruh adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dikerjakan,dengan tidak ada unsur keharusan. Misalnya, terlarang shalat di tengahjalan. Yang melaksanakannya tidak mendapat dosa sekalipun terkadangmendapat celaan.
  5. Mubah. Mubah adalah si mukallaf dibolehkan memilih (oleh Allah swt.)antara mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, dalam arti salah satutidak ada yang diutamakan. Misalnya, firman Allah swt. “Dan makan danminumlah kamu sekalian.” Tegasnya, tidak ada pahala, tidak ada siksa,dan tidak ada celaan atas berbuat atau meninggalkan perbuatan yangdimubahkan.

Apabila Allah swt. menuntut kepada seorang mukallaf untuk melakukansesuatu perbuatan lalu perbuatan tersebut dikerjakannya sesuai denganyang dituntut darinya dengan terpenuhi syarat rukunnya, maka perbuatantersebut disebut shahih. Tetapi apabila salah satu syarat atau rukunnyarusak, maka perbuatan tersebut disebut ghairush shahiih.

Ash-shahiih adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mempunyai urutanakibatnya. Contohnya, bisa seorang mukallaf mengerjakan shalat dengansempurna, terpenuhi syarat rukunnya, maka baginya telah gugur kewajibandan tanggungannya.

Ghairush-shahiih adalah sesuatu yang dilakukannya tidak mempunya urutanakibat-akibat syara’. Contohnya, seorang mukallaf mengerjakan shalattidak terpenuhi syarat rukunnya, seperti shalat tanpa rukuk. Kewajibanmukallaf mengerjakan shalat tersebut belum gugur. Demikian pula kalaushalat dikerjakan tidak pada waktunya atau mengerjakannya tanpa wudhu.Perbuatan-perbuatan yang dikerjakan tidak sesuai dengan tuntutan Allahswt. dianggap tidak ada atau tidak mengerjakan apa-apa

ASAS-ASAS SYARA’

Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atauAl Hadits. Kedudukannya sebagai Pokok Syari’at Islam dimana Al Quranitu Asas Pertama Syara’ dan Al Hadits itu Asas Kedua Syara’. Sifatnya,pada dasarnya mengikat umat Islam seluruh dunia dimanapun berada, sejakkerasulan Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman, kecuali dalam keadaandarurat.

Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatukeadaan yang memungkinkan umat Islam tidak mentaati syari’at Islam,ialah keadaan yang terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan dirisecara lahir dan batin, dan keadaan tersebut tidak diduga sebelumnyaatau tidak diinginkan sebelumnya, demikian pula dalam memanfaatkankeadaan tersebut tidak berlebihan. Jika keadaan darurat itu berakhirmaka segera kembali kepada ketentuan syari’at yang berlaku.

Furu’ Syara’

Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam AlQuran dan Al Hadist. Kedudukannya sebaga Cabang Syari’at Islam.Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat seluruh umat Islam di duniakecuali diterima Ulil Amri setempat menerima sebagai peraturan /perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya.

Perkara atau masalah yang masuk dalam furu’ syara’ ini juga disebut sebagai perkara ijtihadiyah.

 

 

Sumber Hukum Islam

AL-QUR’AN DAN HADITS

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yangditurunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruhumat manusia hingga akhir zaman (Saba’ QS 34:2cool. Sebagai sumber AjaranIslam juga disebut sumber pertama atau Asas Pertama Syara’.

Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah diturunkan ke dunia

Dalam upaya memahami isi Al Quran dari waktu ke waktu telah berkembangtafsiran tentang isi-isi Al-Qur’an namun tidak ada yang salingbertentangan.

Hadits adalah perkataan dan perbuatan dan diamnya dari Nabi Muhammad.Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan keduapada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur’an.

Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalamterminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuahpernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. Namun pada saat inikata hadits mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengansunnah, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan,ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikanketetapan ataupun hukum.

 

Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da’if dan maudu’

  • Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Sanadnya bersambung;
  2. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah,berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuatingatannya.
  3. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) sertatidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
  • Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung,diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, sertamatannya tidak syadz serta cacat.
  • Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung(dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dandiriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya,mengandung kejanggalan atau cacat.
  • Hadits Maudu’, bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalamsanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.

 

Jenis-jenis lain

Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:

  1. Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yanghanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduhberdusta.
  2. Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorangperawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkanoleh perawi yang terpercaya/jujur.
  3. Hadits Mu’allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaituhadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut IbnuHajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu’allal ialah hadits yang nampaknyabaik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasajuga disebut Hadits Ma’lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu’tal(Hadits sakit atau cacat)
  4. Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yangdiriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi)kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
  5. Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yangdiriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukanyang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan(isi)
  6. Hadits gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah
  7. Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
  8. Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan olehperawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yangdiriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
  9. Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya.Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesanseolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalamsanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yangditutup-tutupi kelemahan sanadnya

Ijtihad

Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkanAl-Qur’an dan Hadis. Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad telahwafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada beliau tentang suatuhukum namun hal-hal ibadah tidak bisa diijtihadkan. Beberapa macamijtihad antara lain. Ijtihad merupakan sebuah usaha yangsungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yangsudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidakdibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akalsehat dan pertimbangan matang. Namun pada perkembangan selanjutnya,diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ulama’ yangahli agama Islam.

Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidakberarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh AlQuran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saatturunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalahbaru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalammelaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.

Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempattertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebutdikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelasketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada makapersoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimanadisebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalantersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannyadalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islammemerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalahmereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist.

Jenis-jenis ijtihad

Ijma’

Ijma’ artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkansuatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalamsuatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukanoleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dandisepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama paraulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.

Qiyâs

Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatuhukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namunmemiliki kesamaan dalah sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspekdengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Ijma danQiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyatabelum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya

Beberapa definisi qiyâs (analogi)

  1. Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan diantara keduanya.
  2. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya.
  3. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam[Al-Qur’an] atau [Hadis] dengan kasus baru yang memiliki persamaansebab (iladh).

 

Istihsân

Beberapa definisi Istihsân :

  1. Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu adalah benar.
  2. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya
  3. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak.
  4. Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan.
  5. Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya…

 

Maslahah murshalah

Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya denganpertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarikmanfaat dan menghindari kemudharatan.

Sududz Dzariah

Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat.

Istishab

Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya.

Urf

Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dankebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidakbertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: