Tarekat


Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti:

  1. Jalan atau petunjuk jalan atau cara,
  2. Metode, system(al-uslub),
  3. Mazhab, aliran, haluan (al-mazhab),
  4. Keadaan(al-halah),
  5. Tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amudal-mizalah).

Sedangkan menurut istilah, Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari’at, yang disebut “Al-Jaraa” atau “Al-Amal”, sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:

  1. Tarekat adalah pengamalan syari’at, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
  2. Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata, maupun yang tidak (batin).
  3. Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi) yang mencita-citakan suatu tujuan.

Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian.

a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqamaat” dan “Al-Ahwaal”.

b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran Tarekat tertentu.

Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya.

Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi; yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang, maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqaamaat” dan “Al-Akhwaal”, meskipun kedua istilah ini ada segi perbedaannya.

Latihan kerohanian itu, sering juga disebut “Suluk”, maka pengertian Tarekat dan Suluk adalah sama, bila dilihat dari sisi amalannya (prakteknya). Tetapi kalau dilihat dari sisi organisasinya (perkumpulannya), tentu saja pengertian Tarekat dan Suluk tidak sama.

 

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekatialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan)menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berartimetode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkankehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagaipersaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannyalembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu:sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistemhirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh ataumursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh denganajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipereratdengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahanpertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalampaham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thariqahal-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksibandiyah,Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada jugayang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistikyang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan pahamtasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. MisalnyaTarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (SuawesiSelatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Thoriqoh atau tarekat adalah suatu ilmu untuk mengetahui hal ihwalnafsu dan sifat-sifatnya yang ada pada diri manusia, mana yang tercelakemudian di jauhi dan ditinggalkan, dan mana yang terpuji kemudiandiamalkan.

Tarekat ini sendiri tergolong menjadi dua golongan, yaitu tarekat muktabaroh dan tarekat yang tidak muktabaroh.

Tarekat muktabaroh adalah aliran tarekat yang memiliki sanad yangmuttashil (bersambung) sampai kepada Rosuluwllah Saw. Sedang beliausendiri menerimanya dari malaikat jibril dan malaikat jibril dariAowllah SWT.

Sedangkan tarekat yang tidak muktabaroh adalah aliran tarekat yangtidak memiliki sanad dan tidak muttashil sampi kepada Rosuluwllah.Tetapi pada pelaksanaan dan prakteknya sama.

 

Tariqah Pada Bahasa

Kalimah Thariq berasal dari kekata “tharaqa” yang berarti memukul/memanjangkan, menyisir, mengetuk, melalui, mengucapkan, serta datang di malam hari. Thariq bererti tempat berlalu yang luas dan panjang, melebihi luas jalan. Ia juga bererti jalan yang ditempuh oleh kelompok sufi, dijamakkan menjadi thuruq.

Arti Thariq sama dengan tariqah yang bererti jalan, haluan atau mazhab. Tariqah juga mempunyai erti yang menunjuk pada segolongan orang-orang yang dipandang mulia. Iaitu orang-orang yang dihormati dan diikuti oleh masyarakat kerana keluhuran jiwanya. Pada masyarakat Arab biasanya digunakan kata-kata ‘tariqah al-qaum’ yang bererti suri tauladan dan pilihan mereka iaitu orang-orang yang dijadikan oleh sesuatu masyarakat sebagai ikutan. Maka masyarakat tersebut mengikuti jalan mereka.

 

Tariqah Pada Istilah

Dalam Ilmu Tasawuf, Tariqah merupakan satu jalan atau kaedah yang ditempuh menuju keridhaan Allah swt dengan amaliah zahir dan bathin sepertimana yang terkandung dalam keluasan Ilmu Tasawuf. Adapun ikhtiar menempuh jalan itu lebih dikenali dengan istilah Suluk. Sedangkan orang bersuluk itu pula dipanggil Salik.

Dalam keterangan yang lain, dapat difahami bahwa tariqah itu adalah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan dikerjakan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw, Tabi’in, Tab’i Tabi’in turun temurun sehingga sampai kepada para ulama dan guru-guru. Guru-Guru yang memberikan petunjuk dan bimbingan ini dinamakan Mursyid. Mursyid peranannya membimbing dan mengajar muridnya setelah memperolehi ijazah dari gurunya pula sebagai tersebut dalam silsilahnya. Dengan demikian ahli Tasawuf berkeyakinan bahwa hukum-hakam serta peraturan- peraturan dalam ilmu Syariah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baik perlaksanaan melalui jalan Tariqah.

 

PENGGUNAAN KATA “TARIQAH” DALAM AL-QURAN

Di dalam Al-Quranul Karim, perkataan Tariqah digunakan sebanyak 9 kali di dalam 5 surah. Pengertian tariqah di dalam Al-Quran mempunyai beberapa pengertian. Antaranya ialah:

1. Surah An-Nisa’ : 168

‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka.’

2. Surah An-Nisa’ : 169

‘Melainkan jalan ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’

3. Surah Thoha : 63

‘Mereka berkata : Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.’

4. Surah Thoha : 77

‘Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: Pergilah kamu dengan hambaKu (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).’

5. Surah Thoha : 104

‘Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari sahaja.’

6. Surah Al-Ahqaf : 30

Mereka berkata : Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab – kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.’

7. Surah Al-Mukminin : 17

‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).’

8. Surah Al-Jinn : 11

‘Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang soleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza-beza.’

9. Surah Al-Jinn : 16

‘Dan bahawasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).’

 

Jika diperhatikan 3 bentuk kekata tharaqa digunakan di dalam Al-Quran. Bentuk tersebut adalah:

  1. Thariq – Jalan yang ditetapkan atau jalan yang dilalui oleh manusia
  2. Thariqah – Keutamaan atau kebenaran
  3. Tharaiq – Berbentuk jamak dari perkataan thariq dan thariqah. Mempunyai dua makna iaitu :
  • Jalan yang nampak
  • Aliran atau keadaan

 

ASAL USUL TARIQAH

Nabi Muhammad saw sebagai guru pertama umat Islam telah membuka jalan (tariqah) yang pertama dan telah menyempurnakan tablighnya (penyampaiannya). Maka dengan ini tariqah kaum muslimin keseluruhannya berpokok pangkal dari tariqah Nabi Muhammad saw. Segala amal ibadah yang kita lakukan atau tariqah yang kita amalkan adalah petunjuk yang kita terima dari guru-guru kita. Mereka sebelumnya menerima dari para ulama.

Para ulama sebelumnya menerima dari para Tabi’ Tabi’in. Mereka pula telah menerima dari para tabi’in yang telah menerima dari sahabat yang langsung menerima dari Rasulullah saw. Rasulullah saw telah menerima segala ajaran pula dari Jibril as dan Jibril pula menerimanya dari Allah swt.

Perlaksanaan sunnah Nabi Muhammad saw yang terkandung dalam Ilmu Fiqeh harus dilaksanakan melalui tariqah. Tidak mencukupi hanya dari keterangan hadis–hadis Nabi Muhammad sawsahaja tanpa ada sahabat yang melihat cara perlaksanaan Nabi saw dalam sesuatu ibadah. Kemudian mereka pula menceritakan kembali caranya kepada murid-muridnya iaitu para tabi’in dan seterusnya.  Apabila seseorang mempelajari ilmu Fiqih sebenarnya ia sudah melakukan satu tariqah.

Apabila seorang guru mengajarkan ilmu sembah yang misalnya, ia pasti mengajar, membimbing dan menunjukkan cara perlaksanaan yang betul, dengan niat yang sah, segala rukun sembahyang sehingga dapat sembahyang itu akhirnya dilaksanakan dengan  sempurna. Semua bimbingan gurunya itu dinamakan tariqah. Maka apabila perlaksanaan ibadah itu meninggalkan kesan pada  jiwanya dan dikerjakan secara maksimal, maka ia akan menjadi Haqiqah, sedangkan hasilnya, sebagai tujuan terakhir daripada semua perlaksanaan ibadah itu ialah mengenal Tuhan sebaik-baiknya, atau dalam istilah Tasawuf disebut mencapai Makrifatullah.

Syariah dan Tariqah adalah tidak lain daripada mewujudkan perlaksanaan ibadah dan amal, sedangkan Haqiqah itu memperlihatkan ahwal dan rahsia tujuannya. Dalam Ilmu Tasawuf penjelasan ini disebut: Syariah itu merupakan peraturan. Tariqah itu merupakan perlaksanaan.

Haqiqah itu merupakan keadaan dan Makrifah itu adalah tujuan yang terakhir iaitu mengenal Allah swt.

Imam As-Syeikh  An-Naqsyabandi mengatakan:

“Syariah itu segala apa yang diwajibkan, dan Haqiqah itu segala apa yang diketahui. Syariah itu tidak boleh terlepas dari Haqiqah dan Haqiqah pula itu tidak boleh terlepas dari Syariah.”

Imam Malik pula berkata:

“Barangsiapa mempelajari Fiqeh sahaja dengan tidak mempelajari Tasawuf, maka ia fasik. Barangsiapa mempelajari Tasawuf sahaja dengan tidak mengenal Fiqeh, maka dia itu zindiq. Barangsiapa mempelajari serta mengamalkan kedua-duanya itu, maka dia itulah Mutahaqqiq, iaitu ahli Haqiqah yang sebenarnya.”

 

PANDANGAN PARA ULAMA MENGENAI TARIQAH

Disini kami sertakan beberapa pengertian Tariqah yang diusulkan oleh para ulama.

Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latiff di dalam kitabnya Al-Ayatul Baiyinat :

“Jalan kepada Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fiqh dan Tasawuf”.

Tuan Hj Abdullah Ujong Rimba di dalam kitabnya Ilmu Thariqat dan Hakikat :

“Cara atau kaifiat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai sesuatu tujuan’.

Dr Ahmad Tafsir di dalam artikelnya bertajuk Tarekat dan Hubungannya Dengan Tasawuf mengatakan :

“Sufi-sufi besar seperti Al-Junaid, Al-Qusyairi, dan Al-Ghazali telah merintis jalan-jalan yang berisi kaedah-kaedah dalam usaha mereka masing-masing mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Kaedah-kaedah itu…disebut maqamat, yang jumlah dan urutannya berbeda antara sufi yang satu dengan sufi yang lain. Jalan itu sendiri oleh kaum sufi di sebut Tariqah.”

 

SEJARAH TARIQAH

Islam merupakan agama lengkap yang menjangkau segala aspek hidup, sama ada dalam menyediakan keperluan rohani dan jasmani manusia. Tujuan hidup manusia sesuai dengan fungsinya sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini adalah untuk mencurahkan pengabdian yang sepenuhnya kepada Allah swt.

Amanah dan risalah agama tauhid telah berkembang turun temurun sejak Nabi Adam sehingga ke junjungan kita Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw telah mempamerkan qudwa yang baik menerusi ibadahnya, musyahadahnya, muraqabahnya dan segala tindak tanduknya. Ini jelas dapat dilihat dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw apabila diteliti.

Rasulullah saw telah membawa Islam ke suatu tahap yang sempurna dan menerapkan ajaran dasar iaitu tauhid ke dalam setiap manusia yang mengesakan Allah swt. Diikuti pula dengan perlaksanaan penghambaan melalui peraturan-peraturan agama dan syariat yang tercangkup dalam rukun Islam. Melalui contoh hidup beliau, Rasulullah saw menjadi petunjuk terbaik dalam perlaksanaan ajaran-ajaran tuhan yang diwahyukan itu.

Contoh kezuhudan Rasulullah saw adalah satu tarikan pula buat sebahagian besar para sahabat terutama Sayyidina Abu Bakar ra, Sayyidina Omar ra, Sayyidina Uthman ra, Sayyidina Ali ra, Abu Zar Al-Ghiffari ra, Abu Hurairah ra dan ramai lagi untuk mengikuti.

Para sahabat dan mereka yang mengikut ajaran Rasulullah saw telah memperjuangkan Islam secara zahir dan batin. Semasa pemerintahan Khulafa’ Ar-Rashidin, Islam telah tersebar luas sehingga ke Mesir, Palestine, Syria, Iraq, Parsi, Byzantium dan juga ke setiap pelusuk negara yang lain. Setelah berlalu zaman Khulafa’ Ar-Rashidin dan kerajaan Bani Umaiyyah, hampir semua para Khalifah yang menduduki takhta telah meninggalkan kezuhudan dan kehidupan sederhana.

Mereka telah terpesona dengan kehidupan mewah dan kekuasaan sehingga mereka berani melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mengikut sunnah dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw. Perubahan sosio ekonomik dan politik pada zaman pemerintahan Bani Umaiyyah adalah titik tolak pelancaran suatu aliran zuhud dan mengutamakan pembinaan rohani dalam Islam.

Sebenarnya aliran itu, tidak berniat untuk mengemukakan sesuatu yang baru atau di luar lingkungan agama Islam. Mereka sebenarnya rasa terharu dengan perpecahan umat yang berlaku ketika itu dan merindukan suasana kehidupan yang murni seperti di zaman Rasulullah saw.

Maka pada kebelakangan era pemerintahan Bani Umaiyyah, para zuhud tampil kehadapan terutama di Basrah dan Kufah. Disanalah Hassan Al-Basri dikenali sebagai penggerak Sufi yang terulung. Masa pemerintahan Abasiyyah pula bangkitlah golongan-golongan Sufi yang menggerakkan konsep-konsep kerohanian. Pada zaman inilah sempadan Sufi mula melebar dari perlakuan zuhud ke peringkat ma’rifat ke lebih dalam. Ahli sejarah menetapkan Sheikh Ma’ruf Al-Karkhi sebagai ulama Sufi yang mengemukan aliran ini. Konsep Sufi ini diteruskan oleh mereka seperti Abu Sulaiman Ad-Darani dan Zunnun Al-Masri dan yang lainnya.

Kemunculan Imam Al-Ghazali pula menguatkan dan mendokong usaha pemikir-pemikir Sufi. Beliau bertanggungjawab menerapkan ilmu Tasauf dalam pemikiran dasar ilmu Tafsir dan seterusnya menguatkan pengamalannya dalam Tariqah.

Tren yang berdasar luas dalam pergerakkan Tariqah di masa pemerintahan Bani Abassiyah telah menarik ramai pengikut yang mempunyai latar belakang yang berbeza. Kemudian perkembangan Tariqah begitu cepat sekali. Di masa Al-Ghazali, Tariqah mencapai ekspresi yang lebih sistematik sebagai alat penyampaian Sufi. Dua faktor bertanggungjawab mempelopori fenomena itu adalah Sheikh Tariqah dan para pengikutnya sehinggalah Tariqah itu tersebar luas dan diamalkan di setiap pelusuk bumi sehingga ke hari ini.

 

TUJUAN DAN POKOK TARIQAH

Tariqah sebagai organisasi para salik dan sufi, pada dasarnya memiliki tujuan yang satu, iaitu Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Akan tetapi sebagai organisasi, para salik yang kebanyakan diikuti masyarakat awam merupakan para Mubtadi’in, maka dalam tariqah terdapat tujuan-tujuan yang lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar, dalam Tariqah terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tatacara dan jenis-jenis amalan kesufian. Ketiga tujuan pokok tersebut adalah:

1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)

Ia merupakan satu proses penyucian jiwa yang akan menghasilkan ketenteraman, ketenangan dan rasa dekat dengan Allah swt dengan menyucikan hati dari segala kekotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau ahli tariqah. Bahkan dalam tradisi tariqah, Tazkiyatun Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakit, akan secara langsung menjadikan seseorang dekat kepada Allah swt.

Zikrullah (Mengingati Dan Menyebut Allah) Adapun jalan atau cara menjalani proses Tazkiyatun Nafs ini adalah dengan Zikrullah (mengingat Allah). Zikrullah merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap Tariqah. Yang dimaksudkan dengan Zikir dalam sesuatu tariqah adalah mengingati Allah swt dan menyebut nama Allah swt, baik secara Jahar (lisan) atau secara Sirr (rahsia). Di dalam Tariqah, zikrullah diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk membersihkan jiwa dari segala macam kekotoran dan penyakit-penyakitnya sehingga hampir semua tariqah menggunakan cara ini.

Selain zikrullah, Tazkiyatun Nafs ini juga diperolehi dengan:

  • Mengamalkan Syariat
  • Melaksanakan amalan-amalan sunnah
  • Berperilaku zuhud dan wara’

2. Taqarrub (Mendekatkan Diri Kepada Allah swt)

Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt merupakan antara tujuan utama para sufi dan ahli tariqah. Ini diupayakan dengan beberapa cara yang tersendiri. Cara-cara tersebut dilaksanakan di samping perlaksanaan dan upaya mengingat Allah (zikir) secara terus-menerus, sehingga sampai tidak sedetik pun seorang salik itu lupa kepada Allah swt. Antara cara yang biasanya dilakukan oleh para pengikut tariqah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih berkesan ialah :

Tawassul & Wasilah

Tawassul dan Wasilah dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah yang biasa dilakukan di dalam tariqah adalah suatu cara (wasilah) agar pendekatan diri kepada Allah swt dapat dilakukan dengan mudah dan ringan. Di antara bentuk-bentuk Tawassul yang biasa dilakukan adalah menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Syeikh yang memiliki silsilah tariqah yang diikutinya sejak Nabi  Muhammad saw sampai kepada mursyid yang mengajar zikir kepadanya.

Muraqabah (Pengawasan)

Muraqabah ialah duduk bertafakkur atau mengheningkan perbuatan dengan penuh kesungguhan hati, dengan seolah- olah berhadapan dengan Allah swt. Meyakinkan diri bahawa Allah swt senantiasa mengawasi dan memerhatikannya. Sehingga dengan latihan Muraqabah ini, seorang salik akan memiliki nilai Ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah swt di mana sahaja dan pada setiap masa.

Khalwat & Uzlah (Mengasingkan Diri)

Khalwat atau uzlah adalah mengasingkan diri dari hiruk pikuk urusan duniawi. Sebahagian tariqah tidak mengajarkan Khalwat ini dalam keadaan fizikal, kerana mengikut golongan ini khalwat cukup dilakukan menerusi kehadiran hati (Khalwat Qalb). Sedangkan sebahagian tariqah yang lain, mengajarkan Khalwat atau Uzlah secara fizikal, sebagai pengajaran untuk membawa penuntutnya dapat melakukan Khalwat Qalb.  Ajaran tentang khalwat ini dilaksanakan dengan mengambil iktibar dari amalan Rasulullah saw pada menjelang masa pengangkatan kenabiannya. Dalam perlaksanaan Khalwat ini diisi dengan berbagai Mujahadah demi mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam tradisi sebahagian tariqah di rantau Nusantara ini, Khalwat ini lebih dikenali dengan Suluk.

3. Tujuan-Tujuan Lain

Tariqah sebagai kumpulan yang menghimpunkan para calon sufi atau Salik, yang kebanyakannya terdiri dari masyarakat awam dan kedudukan mereka itu berperingkat Mubtadi’in (permulaan), maka dalam tariqah terdapat amalan-amalan yang menyesuaikan  kepada keadaan masyarakat awam. Amalan-amalan tersebut bertujuan mengharapkan sesuatu imbalan ataupun pertolongan dalam melaksanakan tujuan pengamalan tersebut. Kadang kalanya amalan-amalan inilah yang biasanya memenuhi masa ruang para Salik. Di antara amalan-amalan tersebut ialah :

Wirid

Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara istiqamah (berterusan), pada waktu-waktu yang khusus seperti setiap selesai mengerjakan sembahyang atau pada waktu-waktu tertentu yang lain. Wirid ini biasanya berupa potongan-potongan ayat, selawat atau pun nama-nama Allah.

Perbezaannya dengan zikir adalah kalau zikir itu diijazahkan oleh seorang Mursyid dalam proses Bai’ah atau Talqin atau Hirqah. Sedangkan wirid tidak semestinya harus diijazahkan oleh seorang Mursyid dan tidak diberikan dalam suatu proses perjanjian (bai’ah). Sedangkan dari sudut tujuan juga memiliki perbezaan antara keduanya. Zikir hanya dilakukan satu-satunya untuk  mendekatkan diri kepada Allah swt, sedangkan wirid biasa dikerjakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang lain, umpama memohon keberkahan rezeki, pertolongan dan sebagainya.

Ratib

Ratib adalah amalan yang harus diwiridkan oleh para pengamalnya. Tetapi Ratib ini merupakan kumpulan dari beberapa potongan ayat atau surah-surah pendek yang digabungkan dengan bacaan-bacaan lain seperti Istighfar, Tasbih, Selawat, Asmaul Husna, Kalimah Thayyibah dalam suatu jumlah yang telah ditentukan dalam pengamalan yang khusus.

Ratib ini biasanya disusun oleh seorang mursyid besar dan diberikan secara ijazah kepada para muridnya. Ratib ini juga biasa diamalkan oleh seorang dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan rohani dan merupakan wasilah (perantaraan) dalam doa untuk kepentingan hajat-hajat yang khusus.

Hizib

Hizib pula adalah suatu doa yang panjang, dengan susunan perkataan dan bahasa yang indah disusun oleh seorang sufi besar. Hizib ini biasanya merupakan doa pelindung bagi seorang sufi yang juga diberikan kepada muridnya secara ijazah. Hizib diyakini oleh kebanyakan masyarakat Islam sebagai amalan yang dimiliki daya yang sangat besar terutama jika diperhadapkan dengan ilmu-ilmu ghaib dan kesaktian.

 

MANAQIB

Manaqib sebenarnya adalah biografi seorang sufi besar atau wali Allah seperti As-Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandi. Diyakini oleh para pengamal tariqah sebagai mempunyai suatu kekuatan rohani dan barakah. Bacaan manaqib ini  seringkali dijadikan sebagai amalan, terutama untuk mengingati sejarah dan perjuangan para waliyullah dan untuk tujuan  terkabulnya segala hajat-hajat yang baik dan khusus.

Secara rumusan, pokok dari semua Tariqah itu ada lima :

Pertama – Mempelajari ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan perlaksanaan segala perintah-perintah syara’.

Kedua – Mendampingi guru-guru dan teman setariqah untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah.

Ketiga – Meninggalkan segala Rukhsah dan Ta’wil untuk menjaga dan memelihara kesempurnaan amal.

Keempat – Menjaga dan mempergunakan waktu serta mengisikannya dengan segala wirid dan doa guna kekhusyukan dan kehadiran jiwa.

Kelima – Mengekang diri, jangan sampai keluar melakukan hawa nafsu dan supaya diri itu terjaga daripada kesalahan.

 

INTISARI DALAM TARIQAH

1. Guru atau Mursyid

Syeikh atau guru mempunyai kedudukan yang penting dalam Tariqah. Ia juga sering dikenali dengan panggilan Mursyid (yang memberi petunjuk). Seorang guru tidak sahaja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan zahir dan pergaulan sehari-hari, agar tidak menyimpang daripada ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kepada perbuatan maksiat, berbuat dosa besar atau kecil, yang segera harus ditegurinya. Akan tetapi peranannya juga lebih dari itu, adalah sebagai pemimpin  kerohanian yang tinggi sekali kedudukannya dalam Tariqah. Ia merupakan perantaraan dalam ibadah antara murid dan Tuhannya.  Ini dikaitkan dengan peranan Rasulullah saw didalam membimbing para sahabat menuju kepada penghambaan kepada Allah.

Seorang syeikh dalam Tariqah membimbing muridnya dengan  memberikan pengajaran zikrullah melalui proses Bai’ah (perjanjian). Dan kedudukan syeikh itu haruslah bersilsilah dengan para gurunya pula di mana dia memperolehi ajaran Tariqah tersebut. Oleh  kerana itu jabatan ini tidaklah dapat dipangku oleh orang sembarangan walaupun ia mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang  Tariqah. Di samping menerima ijazah dari guru sebelumnya sebagai penerus pemimpin tariqah, seorang syeikh itu haruslah  mempunyai kebersihan rohani dan kehidupan bathin yang murni. Berbagai-bagai jolokan nama yang tinggi diberikan kepadanya  menurut kedudukannya. Antaranya:

  1. Mursyid : Orang yang memberikan petunjuk (Irsyad)Sheikh Nama yang sering dikaitkan sebagai guru, ketua atau pemimpin
  2. Murabbi : Orang yang mengajarkan ilmu pendidikan (tarbiah) Maulana Gelaran ‘tuan’ guru yang sudah mencapai darjat tinggi
  3. Mua’allim : Guru yang memberikan ilmu Mudarris Pengajar atau pengurus satu pengajian
  4. Muaddib : Guru yang mengajar adab atau tatasusila.Manusia dipanggil ‘adib’ dalam hubungan dengan Khaliq (Penciptanya)
  5. Ustaz : Gelaran biasa bagi seorang guru. Ia lazim sekali digunakandalam rantau sebelah sini, terutama di Singapura, Malaysia dan Brunei. Tetapi di Indonesia sering ustaz itu dipanggil kiyai.
  6. Nussak : Orang yang mengerjakan segala amal dan perintah agama
  7. Ubbad : Orang yang ahli dan ikhlas mengerjakan segala ibadah
  8. Imam : Pemimpin bukan sahaja dalam soal ibadah, bahkan juga dalam sesuatu aliran keyakinan
  9. Sadah : Bererti Penghulu. Gelaran ini juga kadangkala diberikankepada seorang guru sebagai penghormatan atau orang yang dihormatidandiberi kuasa yang penuh.

2. Murid atau Salik

Pengikut sesuatu tariqah itu dinamakan murid, iaitu orang yang menghendaki pengetahuan dalam segala amal ibadahnya. Murid itu  terdiri dari lelaki dan perempuan, tua mahupun muda. Dalam tariqah, seorang murid itu tidak hanya berkewajiban mempelajari  segala sesuatu yang diajarkan atau melakukan segala sesuatu yang dilatihkan guru kepadanya yang merupakan pokok asal dari  ajaran-ajaran sesuatu Tariqah. Bahkan ia harus patuh dan beradab kepada syeikhnya, dirinya sendiri mahupun terhadap saudara- saudaranya setariqah serta orang Islam yang lain. Segala sesuatu yang bertalian dengan itu, diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh Mursyid sesuatu tariqah, kerana kepadakeperibadian murid-muridnya itulah bergantung yang terutama berhasil atau tidak perjalanan suluk tariqah yang ditempuhnya.

Pelajaran-pelajaran kesufian dan latihan-latihan tariqah itu akan kurang faedahnya, jika ianya tidak meninggalkan perubahan budi pekerti dan peningkatan amaliah murid-murid itu.

3. Talqin dan Bai’ah

Talqin dalam istilah Tasawuf adalah pengajaran dan peringatan yang diberikan oleh seorang Mursyid kepada muridnya yang hendak mempelajari beramal mengikut perjalanan tariqahnya. Manakala Bai’ah pula bererti perjanjian (‘ahad) kesanggupan kesetiaan seorang murid di hadapan gurunya untuk mengamal dan mengerjakan segala amalan dan kebajikan yang diperintahkan oleh  gurunya.

Talqin dan bai’ah dalam perlaksanaan adalah sesuatu yang asas dan menjadi pokok pengamalan dalam tariqah. Seorang murid sebelum mengamal, terlebih dahulu harus mendapatkan Bai’ah dan berjanji dengan gurunya dengan penuh kesetiaan. Dengan menjalani proses perjanjian ini, ia akan dapat memberi kesan yang mendalam kepada orang yang menerima pengajaran itu dan dapat menguatkan tali ikatan perguruan dan persaudaraan kukuh yang tidak akan putus antara seorang murid dan gurunya juga  meninggalkan pengertian yang sangat mendalam dan cara-cara serta adab yang akan ditinggalkan dalam ingatan kedua belah pihak.

Kebiasaannya, seorang Syeikh atau Mursyid akan memberikan pengajaran Zikrullah kepada muridnya sebagai amalan pokok dalam  tariqah. Zikrullah yang diajarkan berupa kalimah Tauhid ‘La Ilaha Illallah’ diajarkan kepada murid dengan cara pengamalan yang khusus, terutama melafazkan kalimah ini dengan lafaz yang bersuara dan juga di dalam hati.

Inilah cara yang pernah dipelajari dan diambil oleh Sayidina Abu Bakar As Siddiq ra dan Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra daripada Rasulullah saw sehingga melaksanakan zikir dengan kalimah ini dapat meresap teguh sampai ke dalam hati. Terdapat banyak hadis yang menerangkan peristiwa Nabi Muhammad saw mengambil ‘ahad (perjanjian) pada waktu membai’atkan para sahabatnya, secara perseorangan dan berjamaah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tabrani dari Syaddad Bin Aus bahawa Rasulullah saw pernah mentalkin sahabat-sahabat beliau secara berjamaah dan perseorangan. Pada suatu hari ketika kami berada dekat Nabi saw dan beliau bersabda, “Adakah di antara kamu orang asing?” (yakni Ahli kitab). Maka saya menjawab: ‘Tidak ada’. Lalu Rasulullah saw berkata, “Angkatlah tanganmu dan ucapkanlah La Ilaha Illallah”. Lantas beliau menyambung, “Segala puji bagi Allah wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimah ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan bahawa Engkau tidak sekali-kali memungkiri janji”. Kemudian beliau bertanya: “Ketahuilah, gembiralah. Sesungguhnya Allah swt telah mengampuni kamu sekelian.”

Terdapat juga sesetengah kumpulan tariqah yang menjalankan proses perjanjian dan talqin dengan cara yang berlainan iaitu dengan Wasiat, Ijazah dan Khirqah. Ijazah dan Wasiatmerupakan kekuasaan seorang guru dalam bentuk surat keterangan yang memberi kekuasaan kepada seorang murid untuk mengamalkan sesuatu atau selanjutnya mengajarkan pengamalan tariqah itu kepada orang lain.

Manakala Khirqah pula berupa sepotong kain atau pakaian yang pada kebiasaannya dari bekas pakaian seorang guru yang diberikan kepada murid atau memakainya sebagai mengikat ikatan perguruan dalam pengamalan tariqah. Ini akan menghasilkan keberkahan dan dianggap suci dan menjadi kenang-kenangan bagi seorang murid.

4. Silsilah

Silsilah bagi seorang Syeikh atau Mursyid merupakan sesuatu yang penting untuk mengajar dan memimpin sesuatu tariqah. Mereka  yang menggabung diri kepada sesuatu tariqah, hendaklah mengetahui benar-benar nisbah atau hubungan guru-gurunya yang sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada Nabi Muhammad saw. Ini dianggap perlu dan sesuatu yang darurat  kerana ia memberikan petunjuk kepada seorang murid. Bantuan kerohanian yang diambil guru-gurunya itu harus benar, dan jika tidak berhubungan sampai kepada Nabi Muhammad saw, maka bantuan itu dianggap terputus dan tidak merupakan warisan daripada Nabi saw. Seorang murid dalam tariqah hanya membuat perjanjian dengan gurunya dan tidak menerima Bai’ah, Talqin, Ijazah, Wasiat atau Khirqah tanda kesanggupan dan kesetiaan, kecuali kepada Mursyid yang mempunyai silsilah yang baik dan benar.

Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang panjang yang satu bertalian dengan yang lain, dari kedudukan Mursyid hingga kepada Rasulullah saw. Barangsiapa yang tidak ada hubungan dengan Nabi sawia dianggap terputus limpahan cahaya dan tidak menjadi waris Rasulullah saw. Orang yang demikian tidak dibolehkan mengambil Bai’ah daripadanya dan ia tidak boleh memberi atau diberi Ijazah. Barangsiapa yang mengamalkan tariqah tetapi tidak mengenal nenek moyangnya (silsilah) dari para Masyaikh, ia ditolak dan tidak diakui.

Setiap orang yang tidak mempunyai syeikh (Mursyid) yang memberi bimbingan kepada jalan keluar dari sifat sifat tercela, maka dia dianggap maksiat kepada Allah dan RasulNya kerana dia tidak dapat petunjuk mengenai jalan mengubatinya. Walaupun ia mengamalkan segala perkara yang bersifat aktif ataupun menghafal seribu buku tidaklah bermanfaat dengan tidak berguru atau mempunyai Syeikh.

TARIQAH-TARIQAH YANG MU’TABARAH (YANG DIAKUI KEBENARANNYA)

Tariqah sebagaimana telah diakui dalam Ilmu Tasawuf  sebagai jalan yang memberi petunjuk dan membawa seseorang itu kepada Tuhannya dengan pengabdian sebenarnya. Justru demikian, jalan untuk menyampaikan kepada maksud dan tujuan itu terbentang luas dan banyak sekali. Kepelbagaian tariqah yang wujud dan bermacam jenis, warna dan caranya tetap kembali yang matlamat yang  satu iaitu Taqarrub kepada Allah swt dan akhirnya mancapai Makrifatullah.

Tariqah-tariqah sejak awal kewujudannya telah berkembang pesat dan diamalkan sehingga ke hari ini. Bilangannya banyak sekali.  Ada tariqah-tariqah yang merupakan tariqah asas yang dibentuk oleh ahli-ahli Tasawuf, dan ada juga tariqah-tariqah yang merupakan perpecahan daripada tariqah asas, telah dipengaruhi oleh pendapat para masyaikh tariqah asas, telah dipengaruhi oleh pendapat para masyaikh tariqah yang mengamalkannya di belakangnya atau oleh keadaan setempat, keadaan bangsa yang menganut  tariqah-tariqah itu. Banyak diantara perpecahan tariqah-tariqah itu disusun atau diberi istilah-istilah yang sesuai dengan tempat  perkembangannya.

Dr Syeikh H.Jalaluddin, seorang pakar ilmu Tasawuf dan seorang ahli tariqah,telah banyak menulis tentang perkembangan tariqah-tariqah, antara lain tariqah-tariqah yang telah diakui kesahihannya. Beliau menerangkan tariqah-tariqah tersebut ialah :

  1. Tariqah Qadiriyah
  2. Tariqah Naqsyabandiyyah
  3. Tariqah Syaziliyyah
  4. Tariqah Ahmadiyyah
  5. Tariqah Rifaiyyah
  6. Tariqah Dasukiyyah
  7. Tariqah Akbariyyah
  8. Tariqah Maulawiyyah
  9. Tariqah Qurabiyyah
  10. Tariqah Suhrawardiyyah
  11. Tariqah Khalwatiyyah
  12. Tariqah Jalutiyyah
  13. Tariqah Bakdasiyyah
  14. Tariqah Ghazaliyyah
  15. Tariqah Rumiyyah
  16. Tariqah Jastiyyah
  17. Tariqah Sya’baniyyah
  18. Tariqah Kaisaniyya
  19. Tariqah Hamzawiyyah
  20. Tariqah Sya’baniyya
  21. Tariqah ‘Alawiyyah
  22. Tariqah ‘Usyaqiyyah
  23. Tariqah ‘Umariyyah
  24. Tariqah ‘Uthmaniyyah
  25. Tariqah ‘Aliyyah
  26. Tariqah Bakriyyah
  27. Tariqah ‘Abbasiyyah
  28. Tariqah Haddadiyyah
  29. Tariqah Maghribiyyah
  30. Tariqah Ghaibiyyah
  31. Tariqah Hadiriyyah
  32. Tariqah Syattariyyah
  33. Tariqah Bayumiyyah
  34. Tariqah ‘Aidrusiyyah
  35. Tariqah Sanbliyyah
  36. Tariqah Malawiyyah
  37. Tariqah Anfasiyyah
  38. Tariqah Sammaniyyah
  39. Tariqah Sanusiyyah
  40. Tariqah Idrisiyyah
  41. Tariqah Badawiyyah
  42. Tariqah Tijaniyyah

Sebagai contoh, kami bawakan diantara sejarah dan perkembangan ringkas beberapa tariqah yang tercatit di atas berupa tariqah  yang masih diamalkan sehingga ke hari ini dan termasyhur di rantau nusantara ini.

Tariqah Syaziliyyah

Nama pendiri tariqah ini ialah Abul Hassan Ali As-Syadzili dalam sejarah keturunannya dihubungkan dengan keturunan Sayidina Hassan putera Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra. Lahir di Amman, salah sebuah desa kecil di Afrika, berdekatan desa Mansiyyah, dimana hidup seorang wali Sufi besar, As-Syeikh Abul Abbas Al-Mursi, seorang yang namanya tidak asing dalam dunia Tasawuf. Kedua-dua desa itu terletak di daerah Maghribi.

As-syadili lahir pada tahun 573H. Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki perwatakan yang baik, wajah yang menunjukkan keimanan dan keikhlasan. Warna kulitnya sedang serta badannya agak panjang dengan bentuk wajahnya yang agak memanjang. Menurut Ibnu Sibagh, bentuk badannya itu menunjukkan bentuk seorang yang penuh dengan rahsia-rahsia hidup. Menurut Abdul  ‘Aza’im pula, As-Syadzili adalah seorang yang ringan lidahnya, baik segala ucapannya sehingga segala ucapan yang keluar dari mulutnya mengandungi hikmah dan pengertian yang besar dan mendalam.

Tariqah Syaziliyyah dibentuk dengan menisbah kepada nama pengasasnya. Ia merupakan tariqah yang silsilahnya sambung-menyambung sampai kepada Hassan Bin Ali Bin Abi Thalib ra dan terus sampai kepada Rasulullah saw. Salah sebuah tariqah yang  dikatakan termudah mengenal ilmu dan amal, mengenal ahwal dan maqam, ilham dan maqal dengan mudah dapat membawa  pengikut-pengikutnya kepada jazab, mujahadah, hidayah, rahasia dan karamah.

Menurut kitab -kitabnya, Tariqah Syaziliyyah tidak meletakkan syarat-syarat yang berat kepada Syeikh tariqah, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada tuhan sebanyak  mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam, istighfar sebanyak seratus kali sehari semalam, serta beberapa zikir yang  lain. kitab Syaziliyyah meringkaskan sebanyak dua puluh adab, lima sebelum memulakan zikir. Dua belas dalam mengucapkan zikir  dan tiga sesudah selesai berzikir.

Tariqah Qadiriyyah

Tariqah ini didirikan oleh seorang wali sufi yang agung, As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Beliau seorang yang alim dan zahid, diberi gelaran Qutbul Aqtab. Seorang ahli fiqeh Mazhab Hambali yang terkenal, kemudian beralih kecenderungannya kepada ilmu tariqah dan menyelami alam kesufian. Sejarah tentang kehidupan As-Syeikh dengan segala macam karamahnya banyak tercatit dalam kitab kitab Manaqib As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Ibnu Batutah menceritakan bahawa dalam zamannya sudah mulai dipergunakan orang tempat melakukan latihan-latihan suluk, dan latihan-latihan yang dilakukan di Baghdad itu menurut ajaran-ajaran As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Sehingga dengan demikian,  ajarannya itu lama kelamaan merupakan satu mazhab Sufi dan setiap murid yang telah menamatkan ajarannya sudah beroleh ijazah  khirqah dan berjanji akan meneruskan dan menyiarkan ajarannya itu. Demikianlah diceritakan As-Suhrawardi dalam kitabnya  ‘Awariful Ma’arif’ yang tertulis pada hujung kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazzali. Tariqah mula berkembang pada awalnya  di tanah Arab. Ali Bin Al-Haddad semasa waktu hidup As-Syeikh telah mula menyebarkan tariqah ini di Yaman. Muhammad Batha’  berasal dari Balbek, pula menyebarkan tariqah ini di Syria. Begitu juga Muhammad Al-Yunani terkenal sebagai seorang penyair  Tariqah Qadiriyyah di Balbek dan juga Muhammad bin Abdus Samad yang mewakli As-Syeikh Abdul Qadir sendiri untuk mengembangkan tariqahnya di Mesir. Demikianlah seterusnya ajaran Tariqah Qadiriyyah  disebarkan luas ke negara-negara lain. Ke Makkah, Turki, tersiar juga ke Afrika Tengah, ke Asia sehingga membawa ke rantau nusantara kita ini.

Tariqah Qadiriyyah mempunyai zikir-zikir, wirid dan hizib-hizib yang tertentu. Wirid-wirid Tariqah Qadiriyyah termuat dalam kitab ‘Al-Fuyudat Ar-Rabbaniyyah’ karangan Abdullah Bin Muhammad Al-Ajami, juga seorang sufi yang alim yang telah mencapai umur  183 tahun (527–721 H)

Pokok dasar Tariqah Qadiriyyah sama banyaknya dengan Tariqah Syaziliyyah iaitu terdiri dari lima asas yang  penting. Asas Tariqah Syaziliyyah itu terdiri dari lima perkara :

  1. Taqwa kepada Tuhan zahir dan bathin
  2. Mengikut sunnah dalam perkataan dan perbuatan
  3. Menjauhkan diri dari makhluk di depan dan di belakang.
  4. Rela terhadap Tuhan dalam pemberiannya yang sedikit atau banyak
  5. Kembali kepada Tuhan dalam waktu susah dan senang

Manakala asas pengajaran Tariqah Qadiriyyah pula ada lima perkara;

  1. Tinggi cita-cita
  2. Memelihara kehormatan
  3. Memelihara hikmah
  4. Melaksanakan maksud
  5. Mengagungkan nikmat dan keseluruhan ini semua ditujukan hanya kepada Allah swt semata-mata

Barangsiapa yang cita-citanya tinggi, maka tinggilah martabatnya. Barangsiapa yang memelihara kehormatan Allah, maka Allah akan  memelihara kehormatannya. Barangsiapa yang memperbaiki khidmat, maka ianya wajib memperolehi rahmat. Barangsiapa berusaha mencapai tujuan dan cita-citanya, maka ianya akan selalu memperolehi hidayat. Barangsiapa yang membesarkan nikmat Allah bererti bersyukur kepadaNya.

Barangsiapa bersyukur kepada Allah, akan memperolehi tambahan nikmat yang dijanjikan Allah swt.

Tariqah Rifa’iyyah

Pengasas Tariqah Rifaiyyah adalah seorang sufi yang bernama Rifa’I, pendiri tariqah ini. Tidak banyak lembaran sejarah yang menulis tentang riwayat hidp As-Syeikh ini. Begitu juga Ibnu Khalikan tidak banyak menulis tentang sejarah hidupnya. Lebih banyak diutarakan beberapa catatan mengenai hidupnya dalam kitab tarikh Islam karangan Az-Zahabi, dalam Kitab Tanwirul Absar dan juga Qiladatul Jawahir.

Dari sejarah hidupnya, dapat kita ketahui bahwa tatkala ia berumur tujuh tahun, ayahnya meninggalkan Baghdad pada tahun 419H. Lalu ia diasuh oleh bapa saudaranya Mansur Al-Bathaihi yang tinggal di Basrah. Menurut Imam Sya’rani dalam kitabnya Lawaqihul Anwar, bapa saudaranya itu adalah seorang Syeikh tariqah yang kemudian dinamakan menurut nama Ahmad Rifa’iyyah. Ia pernah menuntut juga dari bapa saudaranya yang lain, Abul Fadhl Ali Al-Wasithi mengenai hukum-hukum Islam dalam mazhab Syafie. Ia belajar dengan giat dalam segala bidang ilmu hingga ke umur 27 tahun. Ia mendapat ijazah dari Abul Fadhl dan Khirqah dari Mansur, yang telah menetap di Umm Abidah dan kemudian meninggal di sana pada tahun 540H.

Ahmad tidak melepaskan keluarga ini dan banyak bergaul dengan anak-anak Mansur yang kesemuanya ahli tariqah. Tariqah  Rifaiyyah ini yang pada awal-awalnya bermula di Iraq, kemudian tersiar luas ke Basrah, sampai ke Damshiq dan Istanbul di Turki. Cabang-cabangnya yang terdapat di Syria ialah Hariyah, Sa’diyah dan Sayyadiyah. Cabangnya yang terdapat di Mesir pula ialah Baziyah, Malikiyah dan Habibiyah. Cabang Sa’diyah di Syria didirikan oleh Sa’duddin Jibawi (wafat 1335H) yang bercabang pula, masing-masing didirikan oleh Abdus Salamiyah dan Abdul Wafaiyah, Hariri cabang di Syria (wafat 1247 H).

 

KESIMPULAN

Keperibadian manusia telah disemai sebagai sebaik-baik penciptaan yang Allah swt mengutamakan atas segala penciptaan yang lain. Kecemerlangan penciptaan yang dinamakan insan ini memerlukan panduan yang sebaik-baiknya baik mengharungi buaian gelora dunia. Tujuannya tiada lain melainkan supaya insan ini akan pulang ke pangkuan Tuhannya dalam keadaan sebaik-baiknya sepertimana keadaannya ketika dalam mula-mula kejadian. Dengan motif mencapai kesempurnaan disisi Allah inilah, ilmu Tasawuf dan jalan Tariqah, para sufi mengutamakan.

Tiada lain melainkan keridhaan Ilahi yang diharapkan, supaya kepulangannya membawa kepada pengucapan salam dari Penciptanya. Dengan ini kami akhiri pembentangan suatu khazanah Islam yang unggul ini dengan harapan ianya menjadi wasilah bagi mencerminkan segelintir isi kandungan yang terkandung didalam ilmu yang besar ini. Semoga ianya menjadi alat bagi mendatangkan  fahaman kepada ajaran Tasawuf dan Tariqah. Dengannya kami mengharapkan maghfirah dan hasanah dari Sang Pencipta, yang  menjadi tujuan atas segala tujuan.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: