Archive for category Artikel Islam

ZAKAT: Syarat Wajib

Merdeka

Maka tidak diwajibkan zakat kepada hamba sahaya, karena hamba itu tidak memiliki harta secara sempurna ( almilikuttam), majikannyalah yang memiliki harta yang dimiliki hambanya.

 

Islam

Bagi non muslim tidak wajib berzakat, karena zakat itu adalah suatu ibadah yang mensucikan atau membersihkan harta. Menurut Imam Syafie seorang murtad wajib mengeluarkan zakatnya seperti dia Islam, sepanjang harta tersebut diperoleh sebelum dia murtad/ kafir. Sedangkan menurut Imam Hanafi kewajiban zakat bagi murtad gugur.

 

Aqil baligh

Menurut pendapat jumhur ulama ( kebanyakan ulama ), diwajibkan membayar zakat atas harta anak-anak dan orang gila, karena zakat itu tidak melihat kepada keadaan orangnya, tetapi melihat kepada hartanya. Pihak yang wajib mengeluarkan zakat adalah walinya. Menurut pendapat Abu Hanifah anak-anak dan orang gila tidak wajib berzakat karena mereka keluar dari katagori kewajiban seperti kewajiban ibadah sholat dan puasa.

 

Milik Sempurna

Yang dimaksud dengan milik sempurna (milik 100 %) adalah kemampuan pemilik harta mentransaksikan barang miliknya tanpa campur tangan orang lain. Hal ini disyaratkan karena pada dasarnya zakat berarti pemilikan dan pemberian untuk orang yang berhak, ini tidak akan terealisir kecuali bila pemilik harta betul-betul memiliki harta tersebut secara sempurna. Dari sinilah, maka harta yang telah berada di luar kekuasaan pemilik (harta dhimar) atau cicilan mas kawin yang belum dibayar tidak wajib zakat.

Hal ini sesuai dengan hadis yang diriiwayatkan oleh sekelompok sahabat yang berarti: “Tidak ada zakat pada harta dhimar, tidak ada zakat pada cicilan maskawin yang tertunda, karena wanita tidak dapat menggunakannya, tidak ada zakat pada piutang atas orang yang kesulitan. Bila sudah berada di tangan, baru wajib dizakati untuk satu tahun berjalan saja, meskipun piutang itu, atau maskawin tersebut telah berada di tangan orang lain/ suaminya bertahun-tahun, demikian juga piutang atas orang yang susah dari sejak beberapa tahun.”

Berkembang Secara Real Atau Estimasi

Dengan artian bahwa harta tersebut harus dapat berkembang secara real atau secara estimasi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan real adalah pertambahan akibat kelahiran, perkembang biakan atau niaga.

Sedangkan yang dimaksud dengan pertumbuhan estimasi adalah harta yang nilainya mempunyai kemungkinan bertambah seperti emas, perak dan mata uang yang semuanya mempunyai kemungkinan pertambahan nilai dengan memperjualbelikannya, sebab itu, semua jenis harta di atas mutlak harus dizakati, berbeda dengan lahan tidur yang tidak dapat berkembang baik secara real maupun secara estimasi, maka tidak wajib dizakati.

Sampai Nisab

Nisab adalah jumlah harta yang ditentukan secara hukum, di mana harta tidak wajib dizakati jika kurang dari ukuran tersebut. Syarat ini berlaku pada uang, emas, perak, barang dagangan dan hewan ternak.

Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda, “Tidak ada kewajiban zakat atas harta emas yang belum sampai 20 dinar (1 dinar= 4,25 gram, jadi 20 dinar=85 gram). Apabila telah sampai 20 dinar, maka zakatnya adalah setengah dinar. Demikian juga perak tidak diambil zakatnya sebelum sampai 200 dirham (1 dirham=2,975 gram, jadi 200 dirham=595 gram) yang dalam hal ini zakatnya adalah 5 dirham.”

Nisab emas adalah 20 mitsqal=85 gram emas murni. Nisab perak adalah 200 dirham=595 gram perak murni. Nisab zakat barang dagangan adalah senilai 85 gram emas murni. Barang-barang zakat lainnya sudah ditetapkan juga nisabnya masing-masing. Termasuk dalam barang zakat adalah barang yang telah lengkap satu nisab berikut kelebihannya.

Adapun barang yang kurang dari satu nisab, tidak termasuk barang yang wajib dizakati. Kesempurnaan nisab dilihat pada awal dan akhir haul, kekurangan dan kelebihan di antara awal dan akhir haul tidak mempengaruhi nisab. Harta zakat beserta penghasilannya digabungkan di akhir haul. Pendapat ini dianut mazhab Hanafi, Maliki dan mayoritas ulama dan cara ini nampaknya lebih mudah diterapkan.
Pengaruh Penggabungan Harta Terhadap Kadar Yang Wajib Dibayar

Harta campuran adalah harta milik beberapa orang yang diperlakukan sebagai harta seorang, dengan alasan kesamaan sifat dan kondisi, seperti kesamaan tempat penggembalaan, tempat minum dan kandang hewan ternak, kesamaan jaminan, urusan dan pembiayaan pada harta perusahaan. Prinsip percampuran ini pada dasarnya diterapkan pada zakat hewan ternak, namun sebagian mazhab menggeneralisasikannya pada selain hewan ternak seperti pertanian, buah-buahan dan mata uang.

Bila kaidah ini diaplikasikan pada harta perusahaan, Anda akan memperlakukan seolah-olah harta itu harta satu orang, baik dalam perhitungan nisab dan kalkulasi kadar yang wajib dibayar. Bila diaplikasikan pada nisab kekayaan ternak, Anda akan mengatakan bahwa nisab hewan ternak yang dimiliki oleh tiga orang, masing-masing memiliki 15 ekor domba telah memenuhi satu nisab, karena jumlah kekayaan ternak 45 ekor, telah melebihi nisab, yaitu 40 ekor kambing. Dalam hal ini, wajib dibayar satu ekor kambing sebagai zakat, di mana jika diaplikasikan secara perorangan, maka nisabnya tidak mencukupi dan tidak wajib dibayar zakatnya.

Melebihi Kebutuhan Pokok

Barang-barang yang dimiliki untuk kebutuhan pokok, seperti rumah pemukinan, alat-alat kerajinan, alat-alat industri, sarana transportasi dan angkutan, seperti mobil dan perabot rumah tangga, tidak dikenakan zakat. Demikian juga uang simpanan yang dicadangkan untuk melunasi utang (akan dijelaskan kemudian), tidak diwajibkan zakat, karena seorang kreditor sangat memerlukan uang yang ada di tangannya untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman utang.

Oleh sebab itu, maka harta yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok tidak wajib dizakati

Tidak Terjadi Zakat Ganda

Apabila suatu harta telah dibayar zakatnya kemudian harta tersebut berubah bentuk, seperti hasil pertanian yang telah dizakati kemudian hasil panen tersebut dijual dengan harga tertentu, atau kekayaan ternak yang telah dizakati kemudian dijual dengan harga tertentu. Dalam hal ini, harga penjualan barang yang telah dizakati di akhir haul tidak wajib dizakati lagi agar tidak terjadi zakat ganda pada satu jenis harta. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw. yang berarti, “Tidak ada ganda dalam zakat”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Harta Umum, Wakaf Dan Kebajikan Sosial

Harta umum tidak wajib dibayar zakatnya, karena harta itu dimiliki oleh orang banyak, mungkin di antara mereka terdapat fakir miskin. Dalam hal ini tidak terdapat pemilik khusus, sehingga tidak ada urgensinya pemerintah mengambil zakat dari hartanya sendiri untuk disalurkan kepada pihaknya juga.

Hal yang sama berlaku pula untuk harta wakaf yang diperuntukkan buat kepentingan umum, seperti untuk para fakir miskin, mesjid-mesjid, yatim-piatu dan lain sebagainya, mengingat karena pemilik harta tersebut telah mewakafkannya untuk kepentingan umum. Demikian juga tidak wajib dizakati harta yayasan bakti sosial, karena harta tersebut adalah milik sekelompok orang-orang fakir yang hanya disalurkan kepada orang-orang yang memerlukan di samping harta tersebut tidak dimiliki oleh satu orang tertentu.

Bebas dari hutang

Orang yang mempunyai hutang mengurangi nishab yang harus dibayar pada waktu yang sama ( dengan waktu mengeluarkan zakat ).

Iklan

Tinggalkan komentar

Sifat Sufi Rasulullah Muhammad SAW

Sifat Sufi Rasulullah Muhammad SAW

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal’khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal’hadi ila shirotikal mustaqiim wa’sholallahu alaiihi wa’ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Syyaikh Abu Nashr As-Sarraj

(Menyambut Maulid Nabi saw.)
Syekh Abu Nashr as-Sarraj’ -rahimahullah – berkata: Diriwayatkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau pernah bersabda
“Sesungguhnya Allah telah membina mental (akhlak)ku, kemudiain Dia membinanya dengan sangat baik.” (H.r. al-Askari dari Ali r.a.).
Beliau juga bersabda:”Saya adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah dan yang paling takut kepada-Nya.” (H.r. Bukhari-Muslim)

Rasulullah juga bersabda: “Aku disuruh memilih antara menjadi seorang Nabi yang menjabat raja atau menjadi seorang Nabi yang hamba. Kemudian Jibril a.s. memberiku isyarat agar berendah hati. Lalu aku menjawab pilihan itu: Akan tetapi aku lebih memilih menjadi Nabi yang hamba; Dimana suatu hari aku kenyang dan di hari yang lain aku lapar”. (H.r. ath Thabrani dari IbnuAbbas, Baihaqi dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Diriwayatkan pula, bahwa beliau bersabda:”Aku ditawari dunia, namun aku menolaknya.” (H.r. Ibnu Abi ad-Dunya, Ahmad dan ath-Thabrani dari Abu Buwaibiyah).

Beliau juga bersabda: “Andaikan aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud niscaya akan aku infakkan demi agama Allah, kecuali sedikit yang aku sisakan untuk menutupi hutang.” (H.r. Bukhari-Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagaimana juga diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah saw. tidak menyimpan makanan untuk esok hari. Belum pernah sekali menyimpan makanan untuk keluarganya untuk masa satu tahun yang juga beliau persiapkan untuk orang-orang yang datang kepadanya.” (H.r. Bukhari-Muslim dari Umar r.a.).

Juga diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah saw. tidak memiliki dua potong baju (gamis), tidak juga makan makanan yang diayak lebih dahulu. Beliau sampai wafat belum pernah sama sekali merasa kenyang dengan roti gandum. Itu dilakukan atas pilihannya sendiri (kondisi normal) dan bukan karena kondisi darurat. Sebab andaikan beliau mau memohon kepada Allah Azza wa Jalla, agar gunung dijadikan-Nya emas dan tidak akan dihisab di hari kiamat, maka Allah akan melakukannya.” (H.r. ath-Thabrani, al-Bazzar dan Bukhari-Muslim).

Dan masih banyak riwayat yang semisal dengan Hadis-hadis di atas.

Diriwayatkan bahwa, Rasulullah saw bersabda kepada Bilal, “Berinfaklah wahai Bilal, dan janganlah engkau khawatir Pemilik Arasy mengurangi hartamu.” (H.r. al-Bazzar, ath-Thabrani al-Qadhai dari Ibnu Mas’ud).

Diriwayatkan, bahwa Barirah pernah menyuguhkan makanan di depan Rasulullah saw., kemudian beliau makan sebagiannya. Kemudian pada malam kedua Barirah datang dengan membawa sisa makanan yang pernah disuguhkan kemarin. Rasulullah kemudian bertanya dan menandaskan, “Apakah engkau tidak takut, jika makanan ini nanti mengepulkan asap dihari Kiamat? Jangan sekali-kali engkau menyimpan makanan untuk esok hari, karena Allah Azza wa jalla akan memberikan makanan setiap hari’.” (H.r. al-Bazzar).

Juga diriwayatkan, Bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mencacat suatu makanan sama sekali, jika berselera maka beliau makan, Jika tidak maka beliau tinggalkan. Dan setiap kali ditawari dua pilihan tentu beliau memilih yang paling sederhana (ringan). (H.r. Malik, Bukhari-Muslim dan Abu Dawud).

Nabi saw. bukanlah seorang petani, bukan pula seorang pedagang dan juga bukan seorang pembajak tanah.

Dan diantara sikap tawadhu’ (rendah hati) beliau, tercermin pada cara berpakaian dan tindakan tindakan lainnya, dimana beliau mengenakan pakalan dari wool kasar (shiji), memakai sandal yang dijahit dengan benang, mengendarai keledai, memeras susu kambing sendiri, menambal dan menjahit sandalnya sendiri, menambal pakaiannya, beliau tidak merasa malu mengendarai keledai atau dibonceng di belakang. (Periwayatan Hadis ini dilansir dalam lafal yang beragam oleh beberapa ahli Hadis semisal Ibnu Majah al-Hakim, ath-Thabrani dan lain lain, pent.).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah tidak suka dengan cara hidup kaya dan sama sekali tidak takut miskin. Dalam hidup yang ditempuh bersama keluarganya, pernah selama satu dan dua bulan tidak mengepulkan asap dapurnya karena tidak ada bahan untuk memasak roti. Makanan utamanya hanyalah dua: kurma dan air. (H.r. Bukhari-Muslim dari Aisyah dan Abu Ya’la dari Abu Hurairah).

Diriwayatkan pula, bahwa istri-istrinya disuruh memilih antara dunia dengan Allah dan Rasul-Nya. Mereka kemudian memilih Allah dan Rasul-Nya. Dalam peristiwa ini turun dua ayat dalam surat al-Ahzab:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya aku berikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar’.”(Q.s. al Ahzab: 28 9).

Dan di antara doanya ialah: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (H.r. Tirmidzi, Ibnu Majah dari Said al Khudri dan athThabrani dari Ubadah bin Shamit. Namun Ibnu al-Jauzi dan Ibnu Taimiyah menganggapnya sebagal Hadis Maudhu’).

Dan di antara doanya pula: “Ya Allah karuniakanlah rezeki kepada keluarga Muhammad makanan pokok yang cukup sehari dalam setiap hari.” (H.r. Bukhari Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Abu Said al-Khudri dalam menerangkan sifat-sifat Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkannya: Rasulullah itu mengenakan pakaian wool kasar dan juga mengikat unta, menyiram tanaman, menyapu rumah, menambal sandal, menambal pakaian, memerah susu kambing, makan bersama pembantunya, tak segan-segan menumbuk gandum jika pembantunya letih, tidak malu untuk memanggul barang-barangnya dan pasar ke rumah keluarganya. Beliau juga selalu bersalaman dengan orang-orang kaya dan miskin. Selalu yang pertama (memulai) mengucapkan salam, tidak pernah menolak orang yang mengundangnya, tidak pernah meremehkan hidangan yang disuguhkan sekalipun hanya berupa kurma yang paling jelek.

Beliau sangat lembut perangainya, berwatak mulia, luwes cara bergaulnya, wajahnya berseri-seri, selalu tersenyum dan tidak pernah tertawa berbahak-bahak. Bila sedih tak pernah kelihatan kusut dan cemberut. Rendah hati tanpa harus rendah diri, dermawan tapi tidak boros. Hatinya lembut, selalu tunduk dan diam, pengasih kepada setiap muslim. Tidak pernah besendawa karena kenyang, dan tidak pernah mengulurkan tangannya kepada makanan (yang jauh).

Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah itu lebih dermawan daripada angin yang bertiup secara bebas.” (H.r. Bukhari Muslim).

Rasulullah saw. pernah memberi kambing sebanyak antara dua gunung kepada seseorang. Kemudian orang itu pulang ke kabilah (suku)nya dan berkata, “Sesungguhnya Muhammad memberi kepada seseorang sebagaimana pemberian orang yang tidak pernah khawatir jatuh miskin.” (H.r. Imam Ahmad dan Muslim dari Anas).

Rasulullah bukanlah sosok yang suka berteriak-teriak, tidak juga sosok yang suka berkata kotor dan keji. (H.r. Tirmidzi).

Nabi Muhammad saw. makan di atas tanah, duduk di atas tanah, memakai baju mantel, duduk bersama-sama orang miskin dan berjalan di pasar. Beliau sering kali menjadikan tangannya sebagai bantal, dan mencukur sendiri. Tidak pernah tertawa lebar-lebar, tidak pernah makan sendirian, tidak pernah memukul pembantu (budak)nya sama sekali dan tidak pernah memukul seorang pun dengan tangannya kecuali demi membela agama Allah. Beliau tidak pernah duduk bersila, tidak pernah makan sambil bersandar.

Beliau pernah bersabda, “Aku makan sebagaimana makannya seorang hamba dan aku duduk sebagai mana duduknya seorang hamba.” (H.r. Saad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Tirmidzi dari Aisyah)

Diriwayatkan, Bahwa Rasulullah saw. pernah mengikat batu di perutnya untuk mengganjal rasa lapar. Padahal andaikan beliau mau memohon kepada Tuhannya untuk menjadikan Gunung Abu Qubais sebagai emas tentu Dia akan mengabulkannya. (H.r. Bukhari-Muslim dari jabir dan Tirmidzi dari Abu Thalhah).

Rasulullah pernah membawa sahabat-sahabatnya ke rumah Abu al-Haitsam bin at-Taihan dengan tanpa diundang. Di sana beliau makan makanannya sendiri dan minum minumannya sendiri. Lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Inilah sebagian nikmat yang kalian tanyakan.” (H.r. Malik, Tirmidzi dan Muslim dari Abu Hurairah).

Rasulullah saw. pernah diundang seseorang untuk datang ke rumahnya dengan membawa lima orang sahabatnya. Maka orang keenam tidak boleh masuk kecuali mendapatkan izin tuan rumah. (H.r. Bukhari Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dalam sebuah Hadis diriwayatkan, Bahwa Rasulullah saw. pernah memiliki pakaian gamis (khamishah) yang ada batik atau motifnya. Kemudian pakaian tersebut diberikan kepada Abu Jahm, sembari bersabda, “Hampir saja gambar ini membuatku terlena.” Kemudian beliau meminta pakaian polos tidak bermotif dan kasar (anbjaniyyah) milik Abu Jahm dengan bersabda, “Tolong berikan kepadaku anbijaniyyah Abu Jahm”. (H.r. Bukhari-Muslim).

1 Komentar

Sholat Sunah Adab Qodiriyah

Sholat Sunah Adab Qodiriyah adalah sholat sunat Muthlak, yang menjadi bagian dari Tarekat Qodiriyah (istiqomah). Waktunya Dilakukan setelah Ba’da Isya sampai dan berakhir satu jam sebelum menjelang masuk waktu Sholat subuh (sekitar jam 3.00). Tata caranya Apabila di jalankan langsung habis sholat subuh maka harus mengambil Wudhu kembali atau memperbaharui wudhu. Sebaiknya dilaksanakan di Musholla atau di Masjid, dan apabila dilaksanakan di dalam rumah tetap harus memakai sholat sunah Tahyatul Masjid, sebabgai berikut sholat sunah Adab Qodiriyah

1. Sholat sunah syukur wudhu 
Dilakukan setelah berwudhu dasar hadis Rasulullah Saw

2. Sholat sunah Tahyatul Masjid

3. Sholat sunah Tobat

4. Sholat sunah Toat

5. Sholat sunah Liqodo’hajat

6. Sholat sunah Hajat
Rakaat pertama ayat yang dibaca : Al-Kafirun 11 X
Rakaat kedua ayat yang di baca : Al-ikhlas 11 X

7.Sholat sunah Hajat

Rakaat pertama dan kedua setelah alfatihah membaca surah Al-ikhlas 11 X

8. Sujud Hajat
Niatnya : Nawaitu Sajada hajat sunatan lillahita’aalaa
Dalam sujud baca : Lailaha’illa anta subhanaka inni kuntum minal dzolimin.
Sebanyak 41 X, lalu berdoa minta ampunan dosa orang tua dan kita, kemudian berdoa
minta hajat kita….amin

9. Zikir
Niatnya : Nawaitu taqoruban ilallah’taalaa ala haji niati
Baca : Istigfar 100 X , Shalawat 100 X dan Tasbih 100 X

10. Sholat sunah Syukri

Semoga kita selalu diberikan kekuatan-Nya untuk riyadah dan Mujahadah di jalan kebenaran didalam Tarekat QodiriyahAsrar mulk  al’firqoh An’Najiyah. Dan di jadikan hamba-Nya yang di Cintai-Nya,dan selalu mencintai Allah Swt, Baginda Rasulullah Saw dan Asy-syaikh Sultan Auliya Abdul Qodir al-Jilani Qodassallahu Sirrohul Aziz dan di berikan Rahmat, Ridho dan Kedekatan-Nya selalu amin

Tinggalkan komentar

Mimpi Sayyidah Aminah Ketika Mengandung Rasulullah SAW

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah SAW, sama sekali ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabiul Awwal.

 

1. Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar.

2. Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah.

3. Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memeperoleh kemenangan dunia dan akhirat.

4. Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah.

5. Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mu’jizat yang besar.

6. Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah.

7. Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafat dan Telaga Kautsar.

8. Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para nabi dan rasul.

9. Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al Qur’an yang diridhai.

 

Semua nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di dunia dan akhirat. Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbesit di hati mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah SAW lahir, Abdul Muthalib memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Makkah bertanya mengapa ia dinamai Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab, “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.”

 

Nama Muhammad sendiri kala itu sangatlah asing digunakan oleh bangsa Arab. Diriwayatkan bahwa kala itu, di Jazirah Arab, bahkan di seluruh dunia, hanya ada tiga orang yang menggunakan nama Muhammad, yaitu Muhammad bin Sufyan dari Bani Taim, Muhammad bin Bilal dari Bani Ausyi dan Muhammad bin Hamran dari Bani Al Ja’fi . Orangtua mereka menamai anaknya dengan nama Muhammad karena mereka berharap agar anak-anaknya itu menjadi Nabi Akhir Zaman, sebagaimana yang diberitakan Taurat dan Injil bahwa Nabi Akhir Zaman itu bernama Ahmad atau Muhammad, yang terlahir dari bangsa Arab.

 

Sumber  :  FB Arfan Diyan Adnan

Tinggalkan komentar

Al-Ghazaly Modern Syekh Nawawi Al-Bantani

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan NU.

Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asyari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.

 

Mengungkap jaringan intelektual para ulama Indonesia sebelum organisasi NU berdiri merupakan kajian yang terlupakan dari perhatian para pemerhati NU. Terlebih lagi bila ditarik sampai keterkaitannya dengan keberhasilan ulama-ulama tradisional dalam karir keilmuannya di Mekkah dan Madinah. Salah satu faktor minimnya kajian di seputar ini adalah diakibatkan dari persepsi pemahaman sebagian masyarakat yang sederhana terhadap NU. NU dipahami sebagai organisasi keagamaan yang seolah-olah hanya bergerak dalam sosial politik dengan sejumlah langkah-langkah perjalanan politik praktisnya, dan bukan sebagai organisasi intelektual keagamaan yang bergerak dalam keilmuan dan mencetak para ulama. Sehingga orang merasa heran dan terkagum-kagum ketika menyaksikan belakangan ini banyak anak muda NU mengusung gerakan pemikiran yang sangat maju, berani dan progressif. Mereka tidak menyadari kalau di tubuh NU juga memiliki akar tradisi intelektual keilmuan yang mapan dan tipikal. Dengan begitu NU berdiri untuk menyelamatkan tradisi keilmuan Islam yang hampir tercerabut dari akar keilmuan ulama salaf. Figur ulama seperti Syekh Nawawi Banten merupakan sosok ulama berpengaruh yang tipikal dari model pemikiran demikian.

Ia memegang teguh mempertahankan traidisi keilmuan klasik, suatu tradisi keilmuan yang tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan secara evolutif dalam pembentukkan keilmuan agama Islam. Besarnya pengaruh pola pemahaman dan pemikiran Syekh Nawawi Banten terhadap para tokoh ulama di Indonesia, Nawawi dapat dikatakan sebagai poros dari. akar tradisi keilmuan pesantren dan NU. Untuk itu menarik jika di sini diuraikan sosok sang kiai ini dengan sejumlah pemikiran mendasar yang kelak akan banyak menjadi karakteristik pola pemikiran dan perjuangan para muridnya di pesantren-pesantren.

Hidup Syekh Nawawi
Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

Ayahnya bernama Kiai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.

Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri. Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana.

Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syeikh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Guru sejatinya pun berasal dari Mesir seperti Syekh Yusuf Sumbulawini dan Syekh Ahmad Nahrawi.

Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai Syekh di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis Syarh selain karena permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.

Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria. Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A ‘yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.

Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada kiai agar proses pembelajaran dengan kiai tidak mengalami kesulitan.

Bidang Teologi
Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang penulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara konprehenshif-utuh.

Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.

Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya (His Act), karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah. Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.

Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.

Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk hal ini dalam konteks Indonesia sebenamya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah.

Sayangnya sebagian sejarawan modem terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme. Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah. Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”.Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.

Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh Safinat a/-Naja, Syarh Sullam a/-Taufiq, Nihayat a/-Zain fi Irsyad a/-Mubtadi’in dan Tasyrih a/a Fathul Qarib,sehingga KH. Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna Dan, atas dedikasi KH. Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas alAzhar Mesir pemah mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundangnya karena nama KH. Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.

Sufi Brilian
Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi. Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam, Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin alGazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat.
Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah basil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.

Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.

Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’al/um (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melului proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.

Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan tejerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).

Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan. bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.

Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang.. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan VanDen Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Kiai Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.

Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-Iembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dpsen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.

Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : KH. Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ), KH. Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, KH. Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri KH. Nawawi, Nyi Maryam, KH. Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan KH. Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, KH. Tubagus Muhammad Asnawi, dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, KH. Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.

Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan wama jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh K.H. Nawawi Banten., Syekh K.H. Mahfuz Termas, Syekh K.H. Abdul Karim, K.H. Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.

Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sarna sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir a/-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik ia tidak mall mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh K.H. Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Kiai Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.

Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sarna lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Kiai para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para kiai didikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.

Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain mejadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karnya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat alGazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.

Sejak abad ke-20 pesantren memiliki fungsi strategis. Gerakan intelektual dari generasi pelanjut K.H. Nawawi ini lambat laun bergeser masuk dalam wilayah politik. Ketika kemelut politik di daerah Jazirah Arab meletus yang berujung pada penaklukan Haramain oleh penguasa Ibn Saud yang beraliran Wahabi, para ulama pesantren membentuk sebuah komite yang disebut dengan “komite Hijaz” yang terdiri dari 11 ulama pesantren. Dengan dimotori oleh K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang Jatim, seorang kiai produk perguruan Haramain, komite ini bertugas melakukan negosiasi dengan raja Saudi yang akan memberlakukan kebijakan penghancuran makam-makam dan peninggalan-peninggalan bersejarah dan usaha itu berhasil. Dan, dalam perkembangannya komite ini kemudian berlanjut mengikuti isu-isu politik di dalam negeri. Untuk masuk dalam wilayah politik praktis secara intens organisasi ini kemudian mengalami perubahan nama dari Nahdlatul Wathan (NW) sampai jadi Nahdlatul Ulama (NU).
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa KH.Nawawi merupakan sosok ulama yang menjadi “akar tunjang” dalam tradisi keintelektualan NU. Sebab karakteristik pola pemikirannya merupakan representasi kecenderungan pemikiran tradisional yang kuat di tengah-tengah gelombang gerakan purifikasi dan pembaharuan. Kehadiran NU adalah untuk membentengi tradisi ini dari ancaman penggusuran intelektual yang mengatasnamakan tajdid terhadap khasanah klasik. Karenanya formulasi manhaj a/-Fikr tawaran KH. Nawawi banyak dielaborasi (diuraikan kembali) oleh para ulama NU sebagai garis perjuangannya yang sejak tahun 1926 dituangkan dalam setiap konferensinya. Bahkan tidak berlebihan bila disebut berdirinya NU merupakan tindak lanjut institusionalisasi dari arus pemikiran KH.Nawawi Banten.

 

Sumber  :  http://darisrajih.wordpress.com/2008/03/05/al-ghazaly-modern-syekh-nawawi-al-bantani/#more-138

Tinggalkan komentar

Ilmu Hikmah

Lewat beberapa nukilan ilmu al-Hikmah, Imam al-Būnī dalam kitabnya, Manba’ Usul Hikmah menerangkan : “Untuk bisa mencapai ilmu supranatural secara benar dan bisa dibuktikan akan hasilnya seorang ritualis harus bisa memahami segala isi ilmu yang terkandung di dalamnya baik berupa tata cara puasa, berzikir dan pendalamannya”.

 

diantara pendalaman ilmu supranatural yang harus diketahui adalah sebagai berikut :

 

1. Mudawamah al-Zikr / Istiqomah Dalam Berzikir.

Dalam pembedaran ini seorang ritualis dituntut untuk selalu menjaga wiridannya secara istiqomah di setiap malam harinya. Sebab untuk bisa merasakan manfaat ilmu yang sedang dijalaninya, seorang ritualis harus bisa memilah peraturan apa yang harus dipilih dalam hal berzikir. Inilah tingkatan zikir menurut hokum para Ahli Hikmah :

1. Zikir Umum (maksimal 2 jam dalam satu dudukan). Tahapan ini membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa merasakan manfaatnya ilmu. Dengan pembahagian :

(a) Zikir Khusus (maksimal 5 jam dalam satu dudukan). Tahapan ini membutuhkan waktu 2, 5 tahun untuk bisa merasakan manfaatnya ilmu.

(b) Zikir Khususul Khusus (maksimal 7 atau 9 jam dalam satu dudukan). Tahapan ini membutuhkan waktu 41 hari untuk bisa merasakan manfaatnya ilmu.

 

2. Tarkunnafsi / Meninggalkan Adat Kebiasaan.

Mengulas arti tarkunnafsi menurut Imam Al-Buuni adalah : “Merubah segala kebiasaan hidup kita dengan jalan meniru kebiasaan para Ahlillah dengan kata lain mengendalikan nafsu badan lewat berbagai aktifitas tirakat seperti menahan lapar dengan cara berpuasa dan menjauhi tidur, menahan mulut dari banyaknya bicara yang kurang bermanfaat dan lain sebagainya”.

 

3. Sidq al-Qalbi / Kejujuran Hati.

Sebagai seorang supranaturalis ilmu Al-Hikmah, kejujuran dan kebersihan hati adalah kunci utama dalam hal penataan ilmu yang sedang dijalaninya. Mereka harus menjaga rasa dan pikirannya dari sifat berandai-andai, ingindi puji, sombong dan lain-lain. Sebab bagaimana pun kuatnya batin seorang supranaturalis, apabila sifat tadi telah bersarang dan tidak secepatnya dibuang, maka lambat laun ilmu yang sudah menyatu dengan tubuhnya akan sirna dengan sendirinya.

Seperti halnya di zaman sekarang, ilmu supranatural banyak dicari kerana berbagai faktor dan tujuan. Namun untuk memperdalam ilmu ini belum tentu semua berhasil meraihnya.

Bagi seorang yang ingin memperdalam ilmu Al-Hikmah, maka kesabaran dan kedisplinan harus selalu terjaga. Sebab banyaknya kegagalan biasanya dari faktor setengah-setengah dalam menjalani suatu ilmu.

Diantara yang menjadi penyebab kegagalan lainnya adalah kerana kurangnya bimbingan dari guru yang mumpuni atau belajar tanpa guru.

 

Nah, untuk bahan pertimbangan para pencita ilmu supranatural, Misteri akan membedarkan 3 tingkatan perjalanan ilmu supranatural, dimulai dari tingkat terendah. Inilah tahapannya :

 

1. Tingkat Rendah : Syak / Khayalan.

Lewat pengulasan para Ahli Hikmah, Syak/Khayalan, sangatlah mengganggu dalam perjalanan seorang supranaturalis, mereka akan mudah dirasuki oleh bangsa jin hitam yang menyesatkan pola pikir kita.

Sedangkan menurut para ahli sufi, syak atau khayalan diertikan sebagai suatu kebohongan batin.

Lantas apa sesungguhnya definisi dari erti syak/khayalan tersebut? Inilah erti sesungguhnya : “Banyaknya berandai-andai atau suka berkhayal ke suatu tujuan tanpa di dasari semangat lahiriah. Seperti contoh, selalu mengelamun menjadi orang sakti, punya kelebihan yang menonjol, bisa menarik pusaka dan sebagainya. Dan dalam kenyataannya mereka hanya berharap-harap tanpa disertai dengan usaha keras.

Pendapat lain, kurangnya bimbingan dari seorang guru yang mumpuni sehingga ketidak teraturan dalam penangkapan ilmu supranatural dan tidak menjadikannya luas dalam berfikir.

Sifat seperti ini menurut para ahli hikmah dan ilmu sufi wajib dijauhkan dari diri seorang spiritualis. Mengapa? Kerana erti supranatural secara hakikatnya adalah mendalami dan menghayati salah satu Af’alulloh lewat rasa ruhaniah (menarik dan memasukkan batin kita lewat jalan amalan dan bantuan makhluk lain alam).

Dari pedoman erti supranatural tadi sudah jelas sekali bahawa penyelarasan antara lahiriah dan batiniah harus seimbang hingga mewujudkan suatu ilmu bisa tercapai tanpa adanya campur tangan dari makhluk alam lain. Dengan erti lain jangan sampai golongan jin hitam merasuki otak kita lewat tipu daya sehingga kita bisa tersesat sampai keluar dari jalur syariat Islam. Naudzu billahi minzalik.

Sebagai pemahaman saja, banyak para spiritualis yang salah kaprah dalam hal memahami dunia supranatural. Mereka kurang memahami tentang erti keyakinan dan makna tauhid secara mendalam dari labilnya sebuah kenyakinan. Mereka beranggapan bahawa sebuah isyaroh/mimpi bertemu para sesepuh ghoib, mereka mengklaimnya sebagai suatu amanat. Seperti banyaknya orang yang mengaku-ngaku sebagai suaminya Ibu Ratu Laut Kidul, kerana dalam mimpinya Ibu Ratu Laut Kidul sendiri yang menyampaikan kata bahasa seperti itu. Atau orang tersebut bermimpi diamanati sebagai pewaris harta karun di suatu tempat yang ditunjuk, misalnya, sehingga mereka merasa bangga mendapat sanjungan seperti itu.

Mimpi/isyaroh seperti ini jangan sekali-kali dijadikan pegangan hidup bahkan harus dijauhi dari khayalan pikiran kita.

Dari kitab Tafsir Qowi dijelaskan, selain para nabi dan waliyullah kamil, arti mimpi apapun bentuknya adalah ziadatuttaqwa (jalan untuk selalu menambah erti ketaqwaan) kecuali kalau bermimpi bertemu para ahlillah, para nabi, para sahabat dan para malaikat semua wajib disyukuri dan dipatuhi apapun ucapannya kerana mimpi seperti ini benar adanya.

Menurut Imam Ibnu Muqotil, bangsa syaitan akan terus menyesatkan anak cucu Nabi Adam a.s. Satu diantaranya lewat sebuah mimpi. Syaitan akan menyerupai siapa pun yang sedang digandrunginya baik menyerupai dedengkot orang sakti, linuwih dan lain-lain. Syaitan akan terus merayu dengan tutur bahasa yang sedemikian halus dengan suatu imaginasi, baik berupa harta kekayaan atau harta karun dan sebagainya, sehingga orang itu akan menjadi terlena dan takabur. Akan tetapi perlu diingat bahawa syaitan tidak mampu menyerupai orang yang menjadi kekasih Allah s.w.t.

 

2. Tingkat Menengah : Ẓan / Antara Nyata Dan Tidak.

Dalam pembedaran Al-Hikmah tingkatan seperti ini sudah bisa dibilang supranaturalis. Ciri orang yang sudah mencapai tingkat ini adalah :

– Selalu mengistiqomahkan wiridan lebih dari 2 jam setiap wiridannya dan sudah melampaui beberapa tahun lamanya.

– Masih punya guru spiritual zahir, sehingga apapun kekurangan dalam suatu ilmu bisa cepat teratasi kerana adanya pengarahan dari Sang Guru tadi.

– Mengenal lebih dari 30% tentang seluk beluk adat istiadat bangsa ghoib sehingga dalam hidupnya banyak diberi/mampu menarik berbagai pusaka dari alam lain.

Cara tingkatan seperti ini menurut para Ahli Hikmah belum dikatakan mumpuni sebab dalam kehidupannya masih ada sifat kadzib (bohong) iaitu masih dirasuki isyaroh/mimpi yang kurang baik dari para jin hitam yang menyesatkan.

Kunci utama dalam tingkatan ini harus selalu dekat dengan bimbingan Sang Guru mumpuni sehingga apapun perintang dalam menjalankan suatu ilmu bisa dinetralisir dengan keluasan ilmunya.

 

Dalam keterangan kitab Mamba’ Usul Hikmah, tingkat tahqiq tergolong mumpuni dalam hal menguasai ilmu supranatural. Konon orang seperti hal telah diakui kebenaran ilmu dan keikhlasan hatinya. Dalam keterangan ilmu Hikmah lainnya, orang yang sudah mencapai tingkat tahqiq, 60% telah menguasai 3 lapisan dunia lain seperti alam Jin Thurobi dan Alam Barry.

Sedangkan menurut Ilmu Tasawuf, Tahqiq di sini terbahagi menjadi 2 bahagian iaitu :

(1) Tahqiq Bil Asma’ / Diterimanya Sebuah Amalan.

Secara makna tafsir, orang yang sudah mengistiqomahkan salah satu ayat/amalan hingga bertahun-tahun lamanya. Dan amalan ini sampai mendarah daging ke tubuh orang dimaksud, sehingga Allah s.w.t menerimanya dengan suatu hidayah. Kerana ayat ini semua doa dan keinginannya akan dikabulkan.

(2) Tahqiq Bis Sifat / Diterimanya Sebuah Keyakinan.

Orang yang sudah bertahun-tahun lamanya menjauhkan nafsu badan dengan jalan puasa lepas (tidak makan dan minum) atau menjauhi mata dari rasa ngantuk/tidur seperti ngarayana (berkelana) ke berbagai daerah dengan jalan kaki tanpa sedikit pun mata ini dipejamkan/ditidurkan.

 

Dari riyadhoh seperti ini Allah s.w.t memberikan hidayah dengan perantaraan jin muslim sehingga para waliyullah selalu memberikan apapun yang dia minta, baik dari segi ilmu supranatural maupun isyarah yang nyata dan benar.

Demikian pemaparan singkat yang dapat penulis uraikan. Semoga dengan pemaparan ini akan ada hikmah yang bisa dipetik untuk suatu kemashlahatan kita, baik dalam pengenalan ilmu supranatural maupun manfaat lainnya.

Tinggalkan komentar

Tarekat

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti:

  1. Jalan atau petunjuk jalan atau cara,
  2. Metode, system(al-uslub),
  3. Mazhab, aliran, haluan (al-mazhab),
  4. Keadaan(al-halah),
  5. Tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amudal-mizalah).

Sedangkan menurut istilah, Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari’at, yang disebut “Al-Jaraa” atau “Al-Amal”, sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:

  1. Tarekat adalah pengamalan syari’at, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
  2. Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata, maupun yang tidak (batin).
  3. Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi) yang mencita-citakan suatu tujuan.

Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian.

a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqamaat” dan “Al-Ahwaal”.

b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran Tarekat tertentu.

Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya.

Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi; yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang, maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqaamaat” dan “Al-Akhwaal”, meskipun kedua istilah ini ada segi perbedaannya.

Latihan kerohanian itu, sering juga disebut “Suluk”, maka pengertian Tarekat dan Suluk adalah sama, bila dilihat dari sisi amalannya (prakteknya). Tetapi kalau dilihat dari sisi organisasinya (perkumpulannya), tentu saja pengertian Tarekat dan Suluk tidak sama.

 

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekatialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan)menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berartimetode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkankehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagaipersaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannyalembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu:sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistemhirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh ataumursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh denganajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipereratdengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahanpertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalampaham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thariqahal-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksibandiyah,Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada jugayang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistikyang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan pahamtasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. MisalnyaTarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (SuawesiSelatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Thoriqoh atau tarekat adalah suatu ilmu untuk mengetahui hal ihwalnafsu dan sifat-sifatnya yang ada pada diri manusia, mana yang tercelakemudian di jauhi dan ditinggalkan, dan mana yang terpuji kemudiandiamalkan.

Tarekat ini sendiri tergolong menjadi dua golongan, yaitu tarekat muktabaroh dan tarekat yang tidak muktabaroh.

Tarekat muktabaroh adalah aliran tarekat yang memiliki sanad yangmuttashil (bersambung) sampai kepada Rosuluwllah Saw. Sedang beliausendiri menerimanya dari malaikat jibril dan malaikat jibril dariAowllah SWT.

Sedangkan tarekat yang tidak muktabaroh adalah aliran tarekat yangtidak memiliki sanad dan tidak muttashil sampi kepada Rosuluwllah.Tetapi pada pelaksanaan dan prakteknya sama.

 

Tariqah Pada Bahasa

Kalimah Thariq berasal dari kekata “tharaqa” yang berarti memukul/memanjangkan, menyisir, mengetuk, melalui, mengucapkan, serta datang di malam hari. Thariq bererti tempat berlalu yang luas dan panjang, melebihi luas jalan. Ia juga bererti jalan yang ditempuh oleh kelompok sufi, dijamakkan menjadi thuruq.

Arti Thariq sama dengan tariqah yang bererti jalan, haluan atau mazhab. Tariqah juga mempunyai erti yang menunjuk pada segolongan orang-orang yang dipandang mulia. Iaitu orang-orang yang dihormati dan diikuti oleh masyarakat kerana keluhuran jiwanya. Pada masyarakat Arab biasanya digunakan kata-kata ‘tariqah al-qaum’ yang bererti suri tauladan dan pilihan mereka iaitu orang-orang yang dijadikan oleh sesuatu masyarakat sebagai ikutan. Maka masyarakat tersebut mengikuti jalan mereka.

 

Tariqah Pada Istilah

Dalam Ilmu Tasawuf, Tariqah merupakan satu jalan atau kaedah yang ditempuh menuju keridhaan Allah swt dengan amaliah zahir dan bathin sepertimana yang terkandung dalam keluasan Ilmu Tasawuf. Adapun ikhtiar menempuh jalan itu lebih dikenali dengan istilah Suluk. Sedangkan orang bersuluk itu pula dipanggil Salik.

Dalam keterangan yang lain, dapat difahami bahwa tariqah itu adalah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan dikerjakan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw, Tabi’in, Tab’i Tabi’in turun temurun sehingga sampai kepada para ulama dan guru-guru. Guru-Guru yang memberikan petunjuk dan bimbingan ini dinamakan Mursyid. Mursyid peranannya membimbing dan mengajar muridnya setelah memperolehi ijazah dari gurunya pula sebagai tersebut dalam silsilahnya. Dengan demikian ahli Tasawuf berkeyakinan bahwa hukum-hakam serta peraturan- peraturan dalam ilmu Syariah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baik perlaksanaan melalui jalan Tariqah.

 

PENGGUNAAN KATA “TARIQAH” DALAM AL-QURAN

Di dalam Al-Quranul Karim, perkataan Tariqah digunakan sebanyak 9 kali di dalam 5 surah. Pengertian tariqah di dalam Al-Quran mempunyai beberapa pengertian. Antaranya ialah:

1. Surah An-Nisa’ : 168

‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka.’

2. Surah An-Nisa’ : 169

‘Melainkan jalan ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’

3. Surah Thoha : 63

‘Mereka berkata : Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.’

4. Surah Thoha : 77

‘Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: Pergilah kamu dengan hambaKu (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).’

5. Surah Thoha : 104

‘Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari sahaja.’

6. Surah Al-Ahqaf : 30

Mereka berkata : Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab – kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.’

7. Surah Al-Mukminin : 17

‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).’

8. Surah Al-Jinn : 11

‘Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang soleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza-beza.’

9. Surah Al-Jinn : 16

‘Dan bahawasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).’

 

Jika diperhatikan 3 bentuk kekata tharaqa digunakan di dalam Al-Quran. Bentuk tersebut adalah:

  1. Thariq – Jalan yang ditetapkan atau jalan yang dilalui oleh manusia
  2. Thariqah – Keutamaan atau kebenaran
  3. Tharaiq – Berbentuk jamak dari perkataan thariq dan thariqah. Mempunyai dua makna iaitu :
  • Jalan yang nampak
  • Aliran atau keadaan

 

ASAL USUL TARIQAH

Nabi Muhammad saw sebagai guru pertama umat Islam telah membuka jalan (tariqah) yang pertama dan telah menyempurnakan tablighnya (penyampaiannya). Maka dengan ini tariqah kaum muslimin keseluruhannya berpokok pangkal dari tariqah Nabi Muhammad saw. Segala amal ibadah yang kita lakukan atau tariqah yang kita amalkan adalah petunjuk yang kita terima dari guru-guru kita. Mereka sebelumnya menerima dari para ulama.

Para ulama sebelumnya menerima dari para Tabi’ Tabi’in. Mereka pula telah menerima dari para tabi’in yang telah menerima dari sahabat yang langsung menerima dari Rasulullah saw. Rasulullah saw telah menerima segala ajaran pula dari Jibril as dan Jibril pula menerimanya dari Allah swt.

Perlaksanaan sunnah Nabi Muhammad saw yang terkandung dalam Ilmu Fiqeh harus dilaksanakan melalui tariqah. Tidak mencukupi hanya dari keterangan hadis–hadis Nabi Muhammad sawsahaja tanpa ada sahabat yang melihat cara perlaksanaan Nabi saw dalam sesuatu ibadah. Kemudian mereka pula menceritakan kembali caranya kepada murid-muridnya iaitu para tabi’in dan seterusnya.  Apabila seseorang mempelajari ilmu Fiqih sebenarnya ia sudah melakukan satu tariqah.

Apabila seorang guru mengajarkan ilmu sembah yang misalnya, ia pasti mengajar, membimbing dan menunjukkan cara perlaksanaan yang betul, dengan niat yang sah, segala rukun sembahyang sehingga dapat sembahyang itu akhirnya dilaksanakan dengan  sempurna. Semua bimbingan gurunya itu dinamakan tariqah. Maka apabila perlaksanaan ibadah itu meninggalkan kesan pada  jiwanya dan dikerjakan secara maksimal, maka ia akan menjadi Haqiqah, sedangkan hasilnya, sebagai tujuan terakhir daripada semua perlaksanaan ibadah itu ialah mengenal Tuhan sebaik-baiknya, atau dalam istilah Tasawuf disebut mencapai Makrifatullah.

Syariah dan Tariqah adalah tidak lain daripada mewujudkan perlaksanaan ibadah dan amal, sedangkan Haqiqah itu memperlihatkan ahwal dan rahsia tujuannya. Dalam Ilmu Tasawuf penjelasan ini disebut: Syariah itu merupakan peraturan. Tariqah itu merupakan perlaksanaan.

Haqiqah itu merupakan keadaan dan Makrifah itu adalah tujuan yang terakhir iaitu mengenal Allah swt.

Imam As-Syeikh  An-Naqsyabandi mengatakan:

“Syariah itu segala apa yang diwajibkan, dan Haqiqah itu segala apa yang diketahui. Syariah itu tidak boleh terlepas dari Haqiqah dan Haqiqah pula itu tidak boleh terlepas dari Syariah.”

Imam Malik pula berkata:

“Barangsiapa mempelajari Fiqeh sahaja dengan tidak mempelajari Tasawuf, maka ia fasik. Barangsiapa mempelajari Tasawuf sahaja dengan tidak mengenal Fiqeh, maka dia itu zindiq. Barangsiapa mempelajari serta mengamalkan kedua-duanya itu, maka dia itulah Mutahaqqiq, iaitu ahli Haqiqah yang sebenarnya.”

 

PANDANGAN PARA ULAMA MENGENAI TARIQAH

Disini kami sertakan beberapa pengertian Tariqah yang diusulkan oleh para ulama.

Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latiff di dalam kitabnya Al-Ayatul Baiyinat :

“Jalan kepada Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fiqh dan Tasawuf”.

Tuan Hj Abdullah Ujong Rimba di dalam kitabnya Ilmu Thariqat dan Hakikat :

“Cara atau kaifiat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai sesuatu tujuan’.

Dr Ahmad Tafsir di dalam artikelnya bertajuk Tarekat dan Hubungannya Dengan Tasawuf mengatakan :

“Sufi-sufi besar seperti Al-Junaid, Al-Qusyairi, dan Al-Ghazali telah merintis jalan-jalan yang berisi kaedah-kaedah dalam usaha mereka masing-masing mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Kaedah-kaedah itu…disebut maqamat, yang jumlah dan urutannya berbeda antara sufi yang satu dengan sufi yang lain. Jalan itu sendiri oleh kaum sufi di sebut Tariqah.”

 

SEJARAH TARIQAH

Islam merupakan agama lengkap yang menjangkau segala aspek hidup, sama ada dalam menyediakan keperluan rohani dan jasmani manusia. Tujuan hidup manusia sesuai dengan fungsinya sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini adalah untuk mencurahkan pengabdian yang sepenuhnya kepada Allah swt.

Amanah dan risalah agama tauhid telah berkembang turun temurun sejak Nabi Adam sehingga ke junjungan kita Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw telah mempamerkan qudwa yang baik menerusi ibadahnya, musyahadahnya, muraqabahnya dan segala tindak tanduknya. Ini jelas dapat dilihat dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw apabila diteliti.

Rasulullah saw telah membawa Islam ke suatu tahap yang sempurna dan menerapkan ajaran dasar iaitu tauhid ke dalam setiap manusia yang mengesakan Allah swt. Diikuti pula dengan perlaksanaan penghambaan melalui peraturan-peraturan agama dan syariat yang tercangkup dalam rukun Islam. Melalui contoh hidup beliau, Rasulullah saw menjadi petunjuk terbaik dalam perlaksanaan ajaran-ajaran tuhan yang diwahyukan itu.

Contoh kezuhudan Rasulullah saw adalah satu tarikan pula buat sebahagian besar para sahabat terutama Sayyidina Abu Bakar ra, Sayyidina Omar ra, Sayyidina Uthman ra, Sayyidina Ali ra, Abu Zar Al-Ghiffari ra, Abu Hurairah ra dan ramai lagi untuk mengikuti.

Para sahabat dan mereka yang mengikut ajaran Rasulullah saw telah memperjuangkan Islam secara zahir dan batin. Semasa pemerintahan Khulafa’ Ar-Rashidin, Islam telah tersebar luas sehingga ke Mesir, Palestine, Syria, Iraq, Parsi, Byzantium dan juga ke setiap pelusuk negara yang lain. Setelah berlalu zaman Khulafa’ Ar-Rashidin dan kerajaan Bani Umaiyyah, hampir semua para Khalifah yang menduduki takhta telah meninggalkan kezuhudan dan kehidupan sederhana.

Mereka telah terpesona dengan kehidupan mewah dan kekuasaan sehingga mereka berani melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mengikut sunnah dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw. Perubahan sosio ekonomik dan politik pada zaman pemerintahan Bani Umaiyyah adalah titik tolak pelancaran suatu aliran zuhud dan mengutamakan pembinaan rohani dalam Islam.

Sebenarnya aliran itu, tidak berniat untuk mengemukakan sesuatu yang baru atau di luar lingkungan agama Islam. Mereka sebenarnya rasa terharu dengan perpecahan umat yang berlaku ketika itu dan merindukan suasana kehidupan yang murni seperti di zaman Rasulullah saw.

Maka pada kebelakangan era pemerintahan Bani Umaiyyah, para zuhud tampil kehadapan terutama di Basrah dan Kufah. Disanalah Hassan Al-Basri dikenali sebagai penggerak Sufi yang terulung. Masa pemerintahan Abasiyyah pula bangkitlah golongan-golongan Sufi yang menggerakkan konsep-konsep kerohanian. Pada zaman inilah sempadan Sufi mula melebar dari perlakuan zuhud ke peringkat ma’rifat ke lebih dalam. Ahli sejarah menetapkan Sheikh Ma’ruf Al-Karkhi sebagai ulama Sufi yang mengemukan aliran ini. Konsep Sufi ini diteruskan oleh mereka seperti Abu Sulaiman Ad-Darani dan Zunnun Al-Masri dan yang lainnya.

Kemunculan Imam Al-Ghazali pula menguatkan dan mendokong usaha pemikir-pemikir Sufi. Beliau bertanggungjawab menerapkan ilmu Tasauf dalam pemikiran dasar ilmu Tafsir dan seterusnya menguatkan pengamalannya dalam Tariqah.

Tren yang berdasar luas dalam pergerakkan Tariqah di masa pemerintahan Bani Abassiyah telah menarik ramai pengikut yang mempunyai latar belakang yang berbeza. Kemudian perkembangan Tariqah begitu cepat sekali. Di masa Al-Ghazali, Tariqah mencapai ekspresi yang lebih sistematik sebagai alat penyampaian Sufi. Dua faktor bertanggungjawab mempelopori fenomena itu adalah Sheikh Tariqah dan para pengikutnya sehinggalah Tariqah itu tersebar luas dan diamalkan di setiap pelusuk bumi sehingga ke hari ini.

 

TUJUAN DAN POKOK TARIQAH

Tariqah sebagai organisasi para salik dan sufi, pada dasarnya memiliki tujuan yang satu, iaitu Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Akan tetapi sebagai organisasi, para salik yang kebanyakan diikuti masyarakat awam merupakan para Mubtadi’in, maka dalam tariqah terdapat tujuan-tujuan yang lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar, dalam Tariqah terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tatacara dan jenis-jenis amalan kesufian. Ketiga tujuan pokok tersebut adalah:

1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)

Ia merupakan satu proses penyucian jiwa yang akan menghasilkan ketenteraman, ketenangan dan rasa dekat dengan Allah swt dengan menyucikan hati dari segala kekotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau ahli tariqah. Bahkan dalam tradisi tariqah, Tazkiyatun Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakit, akan secara langsung menjadikan seseorang dekat kepada Allah swt.

Zikrullah (Mengingati Dan Menyebut Allah) Adapun jalan atau cara menjalani proses Tazkiyatun Nafs ini adalah dengan Zikrullah (mengingat Allah). Zikrullah merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap Tariqah. Yang dimaksudkan dengan Zikir dalam sesuatu tariqah adalah mengingati Allah swt dan menyebut nama Allah swt, baik secara Jahar (lisan) atau secara Sirr (rahsia). Di dalam Tariqah, zikrullah diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk membersihkan jiwa dari segala macam kekotoran dan penyakit-penyakitnya sehingga hampir semua tariqah menggunakan cara ini.

Selain zikrullah, Tazkiyatun Nafs ini juga diperolehi dengan:

  • Mengamalkan Syariat
  • Melaksanakan amalan-amalan sunnah
  • Berperilaku zuhud dan wara’

2. Taqarrub (Mendekatkan Diri Kepada Allah swt)

Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt merupakan antara tujuan utama para sufi dan ahli tariqah. Ini diupayakan dengan beberapa cara yang tersendiri. Cara-cara tersebut dilaksanakan di samping perlaksanaan dan upaya mengingat Allah (zikir) secara terus-menerus, sehingga sampai tidak sedetik pun seorang salik itu lupa kepada Allah swt. Antara cara yang biasanya dilakukan oleh para pengikut tariqah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih berkesan ialah :

Tawassul & Wasilah

Tawassul dan Wasilah dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah yang biasa dilakukan di dalam tariqah adalah suatu cara (wasilah) agar pendekatan diri kepada Allah swt dapat dilakukan dengan mudah dan ringan. Di antara bentuk-bentuk Tawassul yang biasa dilakukan adalah menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Syeikh yang memiliki silsilah tariqah yang diikutinya sejak Nabi  Muhammad saw sampai kepada mursyid yang mengajar zikir kepadanya.

Muraqabah (Pengawasan)

Muraqabah ialah duduk bertafakkur atau mengheningkan perbuatan dengan penuh kesungguhan hati, dengan seolah- olah berhadapan dengan Allah swt. Meyakinkan diri bahawa Allah swt senantiasa mengawasi dan memerhatikannya. Sehingga dengan latihan Muraqabah ini, seorang salik akan memiliki nilai Ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah swt di mana sahaja dan pada setiap masa.

Khalwat & Uzlah (Mengasingkan Diri)

Khalwat atau uzlah adalah mengasingkan diri dari hiruk pikuk urusan duniawi. Sebahagian tariqah tidak mengajarkan Khalwat ini dalam keadaan fizikal, kerana mengikut golongan ini khalwat cukup dilakukan menerusi kehadiran hati (Khalwat Qalb). Sedangkan sebahagian tariqah yang lain, mengajarkan Khalwat atau Uzlah secara fizikal, sebagai pengajaran untuk membawa penuntutnya dapat melakukan Khalwat Qalb.  Ajaran tentang khalwat ini dilaksanakan dengan mengambil iktibar dari amalan Rasulullah saw pada menjelang masa pengangkatan kenabiannya. Dalam perlaksanaan Khalwat ini diisi dengan berbagai Mujahadah demi mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam tradisi sebahagian tariqah di rantau Nusantara ini, Khalwat ini lebih dikenali dengan Suluk.

3. Tujuan-Tujuan Lain

Tariqah sebagai kumpulan yang menghimpunkan para calon sufi atau Salik, yang kebanyakannya terdiri dari masyarakat awam dan kedudukan mereka itu berperingkat Mubtadi’in (permulaan), maka dalam tariqah terdapat amalan-amalan yang menyesuaikan  kepada keadaan masyarakat awam. Amalan-amalan tersebut bertujuan mengharapkan sesuatu imbalan ataupun pertolongan dalam melaksanakan tujuan pengamalan tersebut. Kadang kalanya amalan-amalan inilah yang biasanya memenuhi masa ruang para Salik. Di antara amalan-amalan tersebut ialah :

Wirid

Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara istiqamah (berterusan), pada waktu-waktu yang khusus seperti setiap selesai mengerjakan sembahyang atau pada waktu-waktu tertentu yang lain. Wirid ini biasanya berupa potongan-potongan ayat, selawat atau pun nama-nama Allah.

Perbezaannya dengan zikir adalah kalau zikir itu diijazahkan oleh seorang Mursyid dalam proses Bai’ah atau Talqin atau Hirqah. Sedangkan wirid tidak semestinya harus diijazahkan oleh seorang Mursyid dan tidak diberikan dalam suatu proses perjanjian (bai’ah). Sedangkan dari sudut tujuan juga memiliki perbezaan antara keduanya. Zikir hanya dilakukan satu-satunya untuk  mendekatkan diri kepada Allah swt, sedangkan wirid biasa dikerjakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang lain, umpama memohon keberkahan rezeki, pertolongan dan sebagainya.

Ratib

Ratib adalah amalan yang harus diwiridkan oleh para pengamalnya. Tetapi Ratib ini merupakan kumpulan dari beberapa potongan ayat atau surah-surah pendek yang digabungkan dengan bacaan-bacaan lain seperti Istighfar, Tasbih, Selawat, Asmaul Husna, Kalimah Thayyibah dalam suatu jumlah yang telah ditentukan dalam pengamalan yang khusus.

Ratib ini biasanya disusun oleh seorang mursyid besar dan diberikan secara ijazah kepada para muridnya. Ratib ini juga biasa diamalkan oleh seorang dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan rohani dan merupakan wasilah (perantaraan) dalam doa untuk kepentingan hajat-hajat yang khusus.

Hizib

Hizib pula adalah suatu doa yang panjang, dengan susunan perkataan dan bahasa yang indah disusun oleh seorang sufi besar. Hizib ini biasanya merupakan doa pelindung bagi seorang sufi yang juga diberikan kepada muridnya secara ijazah. Hizib diyakini oleh kebanyakan masyarakat Islam sebagai amalan yang dimiliki daya yang sangat besar terutama jika diperhadapkan dengan ilmu-ilmu ghaib dan kesaktian.

 

MANAQIB

Manaqib sebenarnya adalah biografi seorang sufi besar atau wali Allah seperti As-Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandi. Diyakini oleh para pengamal tariqah sebagai mempunyai suatu kekuatan rohani dan barakah. Bacaan manaqib ini  seringkali dijadikan sebagai amalan, terutama untuk mengingati sejarah dan perjuangan para waliyullah dan untuk tujuan  terkabulnya segala hajat-hajat yang baik dan khusus.

Secara rumusan, pokok dari semua Tariqah itu ada lima :

Pertama – Mempelajari ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan perlaksanaan segala perintah-perintah syara’.

Kedua – Mendampingi guru-guru dan teman setariqah untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah.

Ketiga – Meninggalkan segala Rukhsah dan Ta’wil untuk menjaga dan memelihara kesempurnaan amal.

Keempat – Menjaga dan mempergunakan waktu serta mengisikannya dengan segala wirid dan doa guna kekhusyukan dan kehadiran jiwa.

Kelima – Mengekang diri, jangan sampai keluar melakukan hawa nafsu dan supaya diri itu terjaga daripada kesalahan.

 

INTISARI DALAM TARIQAH

1. Guru atau Mursyid

Syeikh atau guru mempunyai kedudukan yang penting dalam Tariqah. Ia juga sering dikenali dengan panggilan Mursyid (yang memberi petunjuk). Seorang guru tidak sahaja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan zahir dan pergaulan sehari-hari, agar tidak menyimpang daripada ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kepada perbuatan maksiat, berbuat dosa besar atau kecil, yang segera harus ditegurinya. Akan tetapi peranannya juga lebih dari itu, adalah sebagai pemimpin  kerohanian yang tinggi sekali kedudukannya dalam Tariqah. Ia merupakan perantaraan dalam ibadah antara murid dan Tuhannya.  Ini dikaitkan dengan peranan Rasulullah saw didalam membimbing para sahabat menuju kepada penghambaan kepada Allah.

Seorang syeikh dalam Tariqah membimbing muridnya dengan  memberikan pengajaran zikrullah melalui proses Bai’ah (perjanjian). Dan kedudukan syeikh itu haruslah bersilsilah dengan para gurunya pula di mana dia memperolehi ajaran Tariqah tersebut. Oleh  kerana itu jabatan ini tidaklah dapat dipangku oleh orang sembarangan walaupun ia mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang  Tariqah. Di samping menerima ijazah dari guru sebelumnya sebagai penerus pemimpin tariqah, seorang syeikh itu haruslah  mempunyai kebersihan rohani dan kehidupan bathin yang murni. Berbagai-bagai jolokan nama yang tinggi diberikan kepadanya  menurut kedudukannya. Antaranya:

  1. Mursyid : Orang yang memberikan petunjuk (Irsyad)Sheikh Nama yang sering dikaitkan sebagai guru, ketua atau pemimpin
  2. Murabbi : Orang yang mengajarkan ilmu pendidikan (tarbiah) Maulana Gelaran ‘tuan’ guru yang sudah mencapai darjat tinggi
  3. Mua’allim : Guru yang memberikan ilmu Mudarris Pengajar atau pengurus satu pengajian
  4. Muaddib : Guru yang mengajar adab atau tatasusila.Manusia dipanggil ‘adib’ dalam hubungan dengan Khaliq (Penciptanya)
  5. Ustaz : Gelaran biasa bagi seorang guru. Ia lazim sekali digunakandalam rantau sebelah sini, terutama di Singapura, Malaysia dan Brunei. Tetapi di Indonesia sering ustaz itu dipanggil kiyai.
  6. Nussak : Orang yang mengerjakan segala amal dan perintah agama
  7. Ubbad : Orang yang ahli dan ikhlas mengerjakan segala ibadah
  8. Imam : Pemimpin bukan sahaja dalam soal ibadah, bahkan juga dalam sesuatu aliran keyakinan
  9. Sadah : Bererti Penghulu. Gelaran ini juga kadangkala diberikankepada seorang guru sebagai penghormatan atau orang yang dihormatidandiberi kuasa yang penuh.

2. Murid atau Salik

Pengikut sesuatu tariqah itu dinamakan murid, iaitu orang yang menghendaki pengetahuan dalam segala amal ibadahnya. Murid itu  terdiri dari lelaki dan perempuan, tua mahupun muda. Dalam tariqah, seorang murid itu tidak hanya berkewajiban mempelajari  segala sesuatu yang diajarkan atau melakukan segala sesuatu yang dilatihkan guru kepadanya yang merupakan pokok asal dari  ajaran-ajaran sesuatu Tariqah. Bahkan ia harus patuh dan beradab kepada syeikhnya, dirinya sendiri mahupun terhadap saudara- saudaranya setariqah serta orang Islam yang lain. Segala sesuatu yang bertalian dengan itu, diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh Mursyid sesuatu tariqah, kerana kepadakeperibadian murid-muridnya itulah bergantung yang terutama berhasil atau tidak perjalanan suluk tariqah yang ditempuhnya.

Pelajaran-pelajaran kesufian dan latihan-latihan tariqah itu akan kurang faedahnya, jika ianya tidak meninggalkan perubahan budi pekerti dan peningkatan amaliah murid-murid itu.

3. Talqin dan Bai’ah

Talqin dalam istilah Tasawuf adalah pengajaran dan peringatan yang diberikan oleh seorang Mursyid kepada muridnya yang hendak mempelajari beramal mengikut perjalanan tariqahnya. Manakala Bai’ah pula bererti perjanjian (‘ahad) kesanggupan kesetiaan seorang murid di hadapan gurunya untuk mengamal dan mengerjakan segala amalan dan kebajikan yang diperintahkan oleh  gurunya.

Talqin dan bai’ah dalam perlaksanaan adalah sesuatu yang asas dan menjadi pokok pengamalan dalam tariqah. Seorang murid sebelum mengamal, terlebih dahulu harus mendapatkan Bai’ah dan berjanji dengan gurunya dengan penuh kesetiaan. Dengan menjalani proses perjanjian ini, ia akan dapat memberi kesan yang mendalam kepada orang yang menerima pengajaran itu dan dapat menguatkan tali ikatan perguruan dan persaudaraan kukuh yang tidak akan putus antara seorang murid dan gurunya juga  meninggalkan pengertian yang sangat mendalam dan cara-cara serta adab yang akan ditinggalkan dalam ingatan kedua belah pihak.

Kebiasaannya, seorang Syeikh atau Mursyid akan memberikan pengajaran Zikrullah kepada muridnya sebagai amalan pokok dalam  tariqah. Zikrullah yang diajarkan berupa kalimah Tauhid ‘La Ilaha Illallah’ diajarkan kepada murid dengan cara pengamalan yang khusus, terutama melafazkan kalimah ini dengan lafaz yang bersuara dan juga di dalam hati.

Inilah cara yang pernah dipelajari dan diambil oleh Sayidina Abu Bakar As Siddiq ra dan Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra daripada Rasulullah saw sehingga melaksanakan zikir dengan kalimah ini dapat meresap teguh sampai ke dalam hati. Terdapat banyak hadis yang menerangkan peristiwa Nabi Muhammad saw mengambil ‘ahad (perjanjian) pada waktu membai’atkan para sahabatnya, secara perseorangan dan berjamaah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tabrani dari Syaddad Bin Aus bahawa Rasulullah saw pernah mentalkin sahabat-sahabat beliau secara berjamaah dan perseorangan. Pada suatu hari ketika kami berada dekat Nabi saw dan beliau bersabda, “Adakah di antara kamu orang asing?” (yakni Ahli kitab). Maka saya menjawab: ‘Tidak ada’. Lalu Rasulullah saw berkata, “Angkatlah tanganmu dan ucapkanlah La Ilaha Illallah”. Lantas beliau menyambung, “Segala puji bagi Allah wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimah ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan bahawa Engkau tidak sekali-kali memungkiri janji”. Kemudian beliau bertanya: “Ketahuilah, gembiralah. Sesungguhnya Allah swt telah mengampuni kamu sekelian.”

Terdapat juga sesetengah kumpulan tariqah yang menjalankan proses perjanjian dan talqin dengan cara yang berlainan iaitu dengan Wasiat, Ijazah dan Khirqah. Ijazah dan Wasiatmerupakan kekuasaan seorang guru dalam bentuk surat keterangan yang memberi kekuasaan kepada seorang murid untuk mengamalkan sesuatu atau selanjutnya mengajarkan pengamalan tariqah itu kepada orang lain.

Manakala Khirqah pula berupa sepotong kain atau pakaian yang pada kebiasaannya dari bekas pakaian seorang guru yang diberikan kepada murid atau memakainya sebagai mengikat ikatan perguruan dalam pengamalan tariqah. Ini akan menghasilkan keberkahan dan dianggap suci dan menjadi kenang-kenangan bagi seorang murid.

4. Silsilah

Silsilah bagi seorang Syeikh atau Mursyid merupakan sesuatu yang penting untuk mengajar dan memimpin sesuatu tariqah. Mereka  yang menggabung diri kepada sesuatu tariqah, hendaklah mengetahui benar-benar nisbah atau hubungan guru-gurunya yang sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada Nabi Muhammad saw. Ini dianggap perlu dan sesuatu yang darurat  kerana ia memberikan petunjuk kepada seorang murid. Bantuan kerohanian yang diambil guru-gurunya itu harus benar, dan jika tidak berhubungan sampai kepada Nabi Muhammad saw, maka bantuan itu dianggap terputus dan tidak merupakan warisan daripada Nabi saw. Seorang murid dalam tariqah hanya membuat perjanjian dengan gurunya dan tidak menerima Bai’ah, Talqin, Ijazah, Wasiat atau Khirqah tanda kesanggupan dan kesetiaan, kecuali kepada Mursyid yang mempunyai silsilah yang baik dan benar.

Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang panjang yang satu bertalian dengan yang lain, dari kedudukan Mursyid hingga kepada Rasulullah saw. Barangsiapa yang tidak ada hubungan dengan Nabi sawia dianggap terputus limpahan cahaya dan tidak menjadi waris Rasulullah saw. Orang yang demikian tidak dibolehkan mengambil Bai’ah daripadanya dan ia tidak boleh memberi atau diberi Ijazah. Barangsiapa yang mengamalkan tariqah tetapi tidak mengenal nenek moyangnya (silsilah) dari para Masyaikh, ia ditolak dan tidak diakui.

Setiap orang yang tidak mempunyai syeikh (Mursyid) yang memberi bimbingan kepada jalan keluar dari sifat sifat tercela, maka dia dianggap maksiat kepada Allah dan RasulNya kerana dia tidak dapat petunjuk mengenai jalan mengubatinya. Walaupun ia mengamalkan segala perkara yang bersifat aktif ataupun menghafal seribu buku tidaklah bermanfaat dengan tidak berguru atau mempunyai Syeikh.

TARIQAH-TARIQAH YANG MU’TABARAH (YANG DIAKUI KEBENARANNYA)

Tariqah sebagaimana telah diakui dalam Ilmu Tasawuf  sebagai jalan yang memberi petunjuk dan membawa seseorang itu kepada Tuhannya dengan pengabdian sebenarnya. Justru demikian, jalan untuk menyampaikan kepada maksud dan tujuan itu terbentang luas dan banyak sekali. Kepelbagaian tariqah yang wujud dan bermacam jenis, warna dan caranya tetap kembali yang matlamat yang  satu iaitu Taqarrub kepada Allah swt dan akhirnya mancapai Makrifatullah.

Tariqah-tariqah sejak awal kewujudannya telah berkembang pesat dan diamalkan sehingga ke hari ini. Bilangannya banyak sekali.  Ada tariqah-tariqah yang merupakan tariqah asas yang dibentuk oleh ahli-ahli Tasawuf, dan ada juga tariqah-tariqah yang merupakan perpecahan daripada tariqah asas, telah dipengaruhi oleh pendapat para masyaikh tariqah asas, telah dipengaruhi oleh pendapat para masyaikh tariqah yang mengamalkannya di belakangnya atau oleh keadaan setempat, keadaan bangsa yang menganut  tariqah-tariqah itu. Banyak diantara perpecahan tariqah-tariqah itu disusun atau diberi istilah-istilah yang sesuai dengan tempat  perkembangannya.

Dr Syeikh H.Jalaluddin, seorang pakar ilmu Tasawuf dan seorang ahli tariqah,telah banyak menulis tentang perkembangan tariqah-tariqah, antara lain tariqah-tariqah yang telah diakui kesahihannya. Beliau menerangkan tariqah-tariqah tersebut ialah :

  1. Tariqah Qadiriyah
  2. Tariqah Naqsyabandiyyah
  3. Tariqah Syaziliyyah
  4. Tariqah Ahmadiyyah
  5. Tariqah Rifaiyyah
  6. Tariqah Dasukiyyah
  7. Tariqah Akbariyyah
  8. Tariqah Maulawiyyah
  9. Tariqah Qurabiyyah
  10. Tariqah Suhrawardiyyah
  11. Tariqah Khalwatiyyah
  12. Tariqah Jalutiyyah
  13. Tariqah Bakdasiyyah
  14. Tariqah Ghazaliyyah
  15. Tariqah Rumiyyah
  16. Tariqah Jastiyyah
  17. Tariqah Sya’baniyyah
  18. Tariqah Kaisaniyya
  19. Tariqah Hamzawiyyah
  20. Tariqah Sya’baniyya
  21. Tariqah ‘Alawiyyah
  22. Tariqah ‘Usyaqiyyah
  23. Tariqah ‘Umariyyah
  24. Tariqah ‘Uthmaniyyah
  25. Tariqah ‘Aliyyah
  26. Tariqah Bakriyyah
  27. Tariqah ‘Abbasiyyah
  28. Tariqah Haddadiyyah
  29. Tariqah Maghribiyyah
  30. Tariqah Ghaibiyyah
  31. Tariqah Hadiriyyah
  32. Tariqah Syattariyyah
  33. Tariqah Bayumiyyah
  34. Tariqah ‘Aidrusiyyah
  35. Tariqah Sanbliyyah
  36. Tariqah Malawiyyah
  37. Tariqah Anfasiyyah
  38. Tariqah Sammaniyyah
  39. Tariqah Sanusiyyah
  40. Tariqah Idrisiyyah
  41. Tariqah Badawiyyah
  42. Tariqah Tijaniyyah

Sebagai contoh, kami bawakan diantara sejarah dan perkembangan ringkas beberapa tariqah yang tercatit di atas berupa tariqah  yang masih diamalkan sehingga ke hari ini dan termasyhur di rantau nusantara ini.

Tariqah Syaziliyyah

Nama pendiri tariqah ini ialah Abul Hassan Ali As-Syadzili dalam sejarah keturunannya dihubungkan dengan keturunan Sayidina Hassan putera Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra. Lahir di Amman, salah sebuah desa kecil di Afrika, berdekatan desa Mansiyyah, dimana hidup seorang wali Sufi besar, As-Syeikh Abul Abbas Al-Mursi, seorang yang namanya tidak asing dalam dunia Tasawuf. Kedua-dua desa itu terletak di daerah Maghribi.

As-syadili lahir pada tahun 573H. Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki perwatakan yang baik, wajah yang menunjukkan keimanan dan keikhlasan. Warna kulitnya sedang serta badannya agak panjang dengan bentuk wajahnya yang agak memanjang. Menurut Ibnu Sibagh, bentuk badannya itu menunjukkan bentuk seorang yang penuh dengan rahsia-rahsia hidup. Menurut Abdul  ‘Aza’im pula, As-Syadzili adalah seorang yang ringan lidahnya, baik segala ucapannya sehingga segala ucapan yang keluar dari mulutnya mengandungi hikmah dan pengertian yang besar dan mendalam.

Tariqah Syaziliyyah dibentuk dengan menisbah kepada nama pengasasnya. Ia merupakan tariqah yang silsilahnya sambung-menyambung sampai kepada Hassan Bin Ali Bin Abi Thalib ra dan terus sampai kepada Rasulullah saw. Salah sebuah tariqah yang  dikatakan termudah mengenal ilmu dan amal, mengenal ahwal dan maqam, ilham dan maqal dengan mudah dapat membawa  pengikut-pengikutnya kepada jazab, mujahadah, hidayah, rahasia dan karamah.

Menurut kitab -kitabnya, Tariqah Syaziliyyah tidak meletakkan syarat-syarat yang berat kepada Syeikh tariqah, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada tuhan sebanyak  mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam, istighfar sebanyak seratus kali sehari semalam, serta beberapa zikir yang  lain. kitab Syaziliyyah meringkaskan sebanyak dua puluh adab, lima sebelum memulakan zikir. Dua belas dalam mengucapkan zikir  dan tiga sesudah selesai berzikir.

Tariqah Qadiriyyah

Tariqah ini didirikan oleh seorang wali sufi yang agung, As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Beliau seorang yang alim dan zahid, diberi gelaran Qutbul Aqtab. Seorang ahli fiqeh Mazhab Hambali yang terkenal, kemudian beralih kecenderungannya kepada ilmu tariqah dan menyelami alam kesufian. Sejarah tentang kehidupan As-Syeikh dengan segala macam karamahnya banyak tercatit dalam kitab kitab Manaqib As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Ibnu Batutah menceritakan bahawa dalam zamannya sudah mulai dipergunakan orang tempat melakukan latihan-latihan suluk, dan latihan-latihan yang dilakukan di Baghdad itu menurut ajaran-ajaran As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Sehingga dengan demikian,  ajarannya itu lama kelamaan merupakan satu mazhab Sufi dan setiap murid yang telah menamatkan ajarannya sudah beroleh ijazah  khirqah dan berjanji akan meneruskan dan menyiarkan ajarannya itu. Demikianlah diceritakan As-Suhrawardi dalam kitabnya  ‘Awariful Ma’arif’ yang tertulis pada hujung kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazzali. Tariqah mula berkembang pada awalnya  di tanah Arab. Ali Bin Al-Haddad semasa waktu hidup As-Syeikh telah mula menyebarkan tariqah ini di Yaman. Muhammad Batha’  berasal dari Balbek, pula menyebarkan tariqah ini di Syria. Begitu juga Muhammad Al-Yunani terkenal sebagai seorang penyair  Tariqah Qadiriyyah di Balbek dan juga Muhammad bin Abdus Samad yang mewakli As-Syeikh Abdul Qadir sendiri untuk mengembangkan tariqahnya di Mesir. Demikianlah seterusnya ajaran Tariqah Qadiriyyah  disebarkan luas ke negara-negara lain. Ke Makkah, Turki, tersiar juga ke Afrika Tengah, ke Asia sehingga membawa ke rantau nusantara kita ini.

Tariqah Qadiriyyah mempunyai zikir-zikir, wirid dan hizib-hizib yang tertentu. Wirid-wirid Tariqah Qadiriyyah termuat dalam kitab ‘Al-Fuyudat Ar-Rabbaniyyah’ karangan Abdullah Bin Muhammad Al-Ajami, juga seorang sufi yang alim yang telah mencapai umur  183 tahun (527–721 H)

Pokok dasar Tariqah Qadiriyyah sama banyaknya dengan Tariqah Syaziliyyah iaitu terdiri dari lima asas yang  penting. Asas Tariqah Syaziliyyah itu terdiri dari lima perkara :

  1. Taqwa kepada Tuhan zahir dan bathin
  2. Mengikut sunnah dalam perkataan dan perbuatan
  3. Menjauhkan diri dari makhluk di depan dan di belakang.
  4. Rela terhadap Tuhan dalam pemberiannya yang sedikit atau banyak
  5. Kembali kepada Tuhan dalam waktu susah dan senang

Manakala asas pengajaran Tariqah Qadiriyyah pula ada lima perkara;

  1. Tinggi cita-cita
  2. Memelihara kehormatan
  3. Memelihara hikmah
  4. Melaksanakan maksud
  5. Mengagungkan nikmat dan keseluruhan ini semua ditujukan hanya kepada Allah swt semata-mata

Barangsiapa yang cita-citanya tinggi, maka tinggilah martabatnya. Barangsiapa yang memelihara kehormatan Allah, maka Allah akan  memelihara kehormatannya. Barangsiapa yang memperbaiki khidmat, maka ianya wajib memperolehi rahmat. Barangsiapa berusaha mencapai tujuan dan cita-citanya, maka ianya akan selalu memperolehi hidayat. Barangsiapa yang membesarkan nikmat Allah bererti bersyukur kepadaNya.

Barangsiapa bersyukur kepada Allah, akan memperolehi tambahan nikmat yang dijanjikan Allah swt.

Tariqah Rifa’iyyah

Pengasas Tariqah Rifaiyyah adalah seorang sufi yang bernama Rifa’I, pendiri tariqah ini. Tidak banyak lembaran sejarah yang menulis tentang riwayat hidp As-Syeikh ini. Begitu juga Ibnu Khalikan tidak banyak menulis tentang sejarah hidupnya. Lebih banyak diutarakan beberapa catatan mengenai hidupnya dalam kitab tarikh Islam karangan Az-Zahabi, dalam Kitab Tanwirul Absar dan juga Qiladatul Jawahir.

Dari sejarah hidupnya, dapat kita ketahui bahwa tatkala ia berumur tujuh tahun, ayahnya meninggalkan Baghdad pada tahun 419H. Lalu ia diasuh oleh bapa saudaranya Mansur Al-Bathaihi yang tinggal di Basrah. Menurut Imam Sya’rani dalam kitabnya Lawaqihul Anwar, bapa saudaranya itu adalah seorang Syeikh tariqah yang kemudian dinamakan menurut nama Ahmad Rifa’iyyah. Ia pernah menuntut juga dari bapa saudaranya yang lain, Abul Fadhl Ali Al-Wasithi mengenai hukum-hukum Islam dalam mazhab Syafie. Ia belajar dengan giat dalam segala bidang ilmu hingga ke umur 27 tahun. Ia mendapat ijazah dari Abul Fadhl dan Khirqah dari Mansur, yang telah menetap di Umm Abidah dan kemudian meninggal di sana pada tahun 540H.

Ahmad tidak melepaskan keluarga ini dan banyak bergaul dengan anak-anak Mansur yang kesemuanya ahli tariqah. Tariqah  Rifaiyyah ini yang pada awal-awalnya bermula di Iraq, kemudian tersiar luas ke Basrah, sampai ke Damshiq dan Istanbul di Turki. Cabang-cabangnya yang terdapat di Syria ialah Hariyah, Sa’diyah dan Sayyadiyah. Cabangnya yang terdapat di Mesir pula ialah Baziyah, Malikiyah dan Habibiyah. Cabang Sa’diyah di Syria didirikan oleh Sa’duddin Jibawi (wafat 1335H) yang bercabang pula, masing-masing didirikan oleh Abdus Salamiyah dan Abdul Wafaiyah, Hariri cabang di Syria (wafat 1247 H).

 

KESIMPULAN

Keperibadian manusia telah disemai sebagai sebaik-baik penciptaan yang Allah swt mengutamakan atas segala penciptaan yang lain. Kecemerlangan penciptaan yang dinamakan insan ini memerlukan panduan yang sebaik-baiknya baik mengharungi buaian gelora dunia. Tujuannya tiada lain melainkan supaya insan ini akan pulang ke pangkuan Tuhannya dalam keadaan sebaik-baiknya sepertimana keadaannya ketika dalam mula-mula kejadian. Dengan motif mencapai kesempurnaan disisi Allah inilah, ilmu Tasawuf dan jalan Tariqah, para sufi mengutamakan.

Tiada lain melainkan keridhaan Ilahi yang diharapkan, supaya kepulangannya membawa kepada pengucapan salam dari Penciptanya. Dengan ini kami akhiri pembentangan suatu khazanah Islam yang unggul ini dengan harapan ianya menjadi wasilah bagi mencerminkan segelintir isi kandungan yang terkandung didalam ilmu yang besar ini. Semoga ianya menjadi alat bagi mendatangkan  fahaman kepada ajaran Tasawuf dan Tariqah. Dengannya kami mengharapkan maghfirah dan hasanah dari Sang Pencipta, yang  menjadi tujuan atas segala tujuan.

Tinggalkan komentar